BERAU TERKINI – Berikut ini kisah Husni, seorang Kepala Sekolah Kelompok Bermain Sri Rejeki yang berjuang mendidik anak-anak di tengah keterbasatan fasilitas.
Bulan November adalah bulan memperingati pahlawan. Tak hanya pahlawan di masa kemerdekaan, bulan ini juga sebagai pengingat pahlawan hari ini yang berjuang demi masa depan anak-anak.
Adalah Husni, seorang Kepala Sekolah sekaligus guru PAUD di Kelompok Bermain Sri Rejeki, Kampung Semurut, Kecamatan Tabalar, Kabupaten Berau.
Dia berkomitmen untuk mengabdi dan mengajar di tengah keterbatasan fasilitas pendidikan yang ada.
Husni mengaku mulai mengajar sejak 2011 silam, alasannya terjun untuk mengajar anak-anak, karena ia mencintai pekerjaannya.

Husni mengaku sering tidak dibayar, bahkan dirinya juga pernah hanya menerima gaji sebesar Rp 50.000 per bulan pada tahun 2011 silam.
“Karena saya mencintai pekerjaan saya, enggak digaji pun saya ikhlas kok,” ujar Husni kepada Berauterkini.co.id, Selasa (11/11/2025).
Husni bercerita kondisi Sekolah Kelompok Bermain Sri Rejeki jauh dari kata memadai, bahkan tidak ada fasilitas kamar mandi di sekolahnya mengajar.
Dulu, sekolahnya juga tidak memiliki pagar, sehingga kebersihan sekolah menjadi tidak terawat.
Namun berkat usahanya, dengan meminta bantuan kepada Pemerintah Kampung Semurut, Pemkab Berau maupun DPRD Berau. Kini sekolahnya sudah memiliki pagar.
“Saya berjuang ke pemerintah melalui anggota dewan dan mendapatkan bantuan, jadi lokasinya sudah berpagar”, ungkapnya.
Husni mengaku bertahan menjadi guru PAUD karena ingin menyejahterakan sesama rekan kerjanya.
Menurutnya, profesi sebagai guru PAUD sering dianaktirikan.
Tak hanya profesi guru PAUD yang kerap dianaktirikan, menjadi guru di sekolah swasta juga kerap tak diperhatikan.
Kini Husni bertekad untuk bertahan sebagai guru PAUD di tengah keterbatasan.
Dia ingin guru PAUD lainnya di Berau mendapatkan kesejahteraan dan fasilitas sekolah yang memadai.
“Saya pengen mensejahterakan guru PAUD,” ungkapnya.
“Supaya guru PAUD enggak seperti dianaktirikan, karena kadang yang dimiliki oleh negeri sekarang tidak dimiliki oleh swasta. Kami sama-sama mencerdaskan anak bangsa, tapi ya mungkin belum rejeki,” ungkapnya.
