BERAU TERKINI – Berikut ini perjalanan hidup Ahmad Roby Prayoga merintis Manajemen Model di Berau.
Ahmad Roby Prayoga (27) pemuda asal Berau, bahwa perjalanan hidupnya akan membawanya menjadi pendiri sebuah manajemen model.
Laki-laki yang akrab disapa Gayo ini dulunya justru sempat menjadi korban bully, hingga membuatnya menutup diri dan sulit bergaul.
Namun titik balik muncul pada 2017. Baru lulus SMA, Gayo memberanikan diri mengikuti ajang Duta Wisata di Kabupaten Berau. Meski gagal di tahap awal, dari sanalah ia mulai belajar public speaking dan melawan rasa takutnya.
“Sakit hati waktu itu, tapi justru jadi awal untuk terus mencoba,” kenangnya.

Setahun berselang, Gayo kembali menapaki panggung. Ia mengikuti Indonesia Star Ethnic 2018 di Jakarta, mewakili Berau. Dengan modal semangat dan biaya pribadi, ia berhasil menembus tiga besar nasional. Dari sanalah motivasi semakin tumbuh.
Ia menceritakan puncaknya erjadi pada 2021. Dengan kerja keras menabung sejak 2018, Gayo akhirnya bisa kembali ke Jakarta untuk mengikuti ajang Pesona Batik Nusantara (PBN).
Ia tampil dengan busana batik bercorak khas Berau, memadukan unsur tiga suku asli dan kekayaan laut Pulau Derawan. Penampilan ini tak hanya membawanya meraih juara, tetapi juga membuka jalan baru. “Aku ingin tampilkan sesuatu yang beda jadi busananya yang bercerita tentang budaya daerah,” jelasnya.
Sepulang dari ajang tersebut, Anak bungsu sari tiga bersaudara itu mendirikan komunitas kecil. Meski awalnya sempat bekerja sama dengan pihak lain, ia akhirnya memilih berdiri sendiri dan pada 2022 resmi mendirikan OGAYO Management.
Nama “OGAYO” sendiri berasal dari panggilan akrabnya sejak SMP, “Gayo”, yang kemudian dikemas agar mudah diingat. “Namaku kan Yoga tapi dari SMP itu di panggilnya Gayo dan melekat smpai aku kuliah,” tuturnya.
Kini, OGAYO Management telah memiliki belasan anak didik aktif. Tidak hanya melatih catwalk, tetapi juga photoshoot, public speaking, hingga dance. Menurut Gayo, tujuannya bukan sekadar mencetak model, tetapi juga mendidik mereka agar memahami proses.
“Aku maunya anak-anak ini jadi macan di Berau dulu, sebelum melangkah lebih jauh. Bukan sekadar juara, tapi berproses dan punya kualitas,” tegasnya.
Meski sempat dipandang sebelah mata, Gayo tetap bangga dengan pencapaian murid-muridnya. Beberapa sudah menorehkan prestasi di tingkat provinsi bahkan luar daerah.

“Rasanya bangga, setiap lomba nama OGAYO selalu ditunggu-tunggu. Itu artinya usaha kami mulai diperhitungkan,” katanya.
Baginya, dunia modeling bukanlah sekadar soal penampilan fisik atau stigma negatif yang kerap melekat. Melainkan wadah untuk menyalurkan bakat, memperkenalkan budaya, dan membuka relasi.
Ia bahkan sering menyelipkan promosi wisata melalui batik yang digunakan anak didiknya.
“Sekarang sudah banyak model berhijab, jadi jangan langsung berpikir negatif. Di OGAYO anak-anak diajarkan sesuai porsinya, tetap ada batasan. Yang penting mereka berproses, belajar, dan berani tampil,” jelasnya.
Empat tahun perjalanan OGAYO menjadi bukti konsistensinya. Dari seorang yang dulu menutup diri karena bully, kini ia berdiri di depan banyak orang, menjadi mentor sekaligus inspirasi.
“Perjalanan masih panjang, tapi saya percaya, proses yang tulus akan melahirkan model-model berprestasi dari Berau,” pungkasnya.(*)
