BERAU TERKINI – Keterbatasan peralatan dan tenaga profesional menjadi tantangan serius dalam penanganan insiden kecelakaan laut di Kabupaten Berau.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau mengakui, kesiapan pemerintah daerah menghadapi kondisi darurat di wilayah perairan dalam masih jauh dari ideal.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Berau, Nofian Hidayat, mengatakan, proses evakuasi kapal karam di kedalaman sekitar 46 meter beberapa waktu lalu, sempat terhambat karena minimnya penyelam bersertifikat tinggi.
“Diver yang dimiliki Pemkab Berau saat ini hanya berlisensi advance, belum ada yang berstatus dive master,” ujarnya, Selasa (4/11/2025).
Padahal, untuk kedalaman seperti itu, hanya penyelam dengan lisensi dive master yang bisa turun secara aman dan profesional.
Keterbatasan itu membuat ruang gerak tim penyelamat sangat terbatas.
Dalam kasus tenggelamnya KM Mina Maritim 148 di perairan Talisayan belum lama ini, BPBD bahkan harus meminta bantuan penyelam profesional dari luar daerah untuk membantu proses pencarian korban.
“Risikonya tinggi. Arus kuat, jarak pandang terbatas, dan di sekitar kapal ada jaring. Tanpa dive master, kami tidak bisa memaksakan ASN untuk turun, karena nyawanya juga taruhannya,” jelas Nofian.
Selain kekurangan tenaga ahli, BPBD Berau juga menghadapi kendala lain, yakni tidak adanya fasilitas ruang hiperbarik (chamber).
Alat ini penting untuk menangani penyelam yang mengalami dekompresi atau deco sickness akibat naik ke permukaan terlalu cepat.
“Chamber itu bukan cuma untuk penanganan dekompresi, tapi juga bermanfaat untuk terapi kesehatan lain, seperti asam urat, gangguan saraf, sampai pemulihan cedera,” jelasnya.
Saat ini, fasilitas hiperbarik terdekat hanya tersedia di Tanjung Redeb.
Padahal, beberapa lokasi penyelaman seperti di Talisayan dan pesisir selatan Berau berjarak lebih dari dua jam perjalanan.
“Kalau penyelam mengalami deco sickness, dua jam saja bisa menyebabkan kelumpuhan, empat jam bisa berakibat fatal. Jadi waktu penanganan sangat krusial,” tambahnya.
Melihat kondisi tersebut, BPBD Berau mendorong pemerintah daerah untuk segera meningkatkan kapasitas tanggap darurat maritim.
Salah satunya dengan menyiapkan ASN penyelam bersertifikat profesional dan menghadirkan fasilitas chamber di wilayah pesisir.
Dia menyebut, Berau punya wilayah perairan luas dan aktivitas maritim yang tinggi.
Sudah seharusnya pemerintah daerah punya penyelam dengan lisensi rescue professional dan satu unit chamber yang bisa digunakan untuk kepentingan bersama.
“Apalagi wisata andalan kita juga ada di air dan spot andalan adalah diving. Saya kira ini sangat penting,” pungkasnya. (*)
