BERAU TERKINI – Pemerintah Kabupaten Berau kini menaruh perhatian serius pada pengembangan komoditas Kelapa Pandan, sebuah tanaman yang dikenal memiliki aroma khas.
Komoditas ini diproyeksikan menjadi penopang ekonomi lokal sekaligus elemen penting dalam memperindah sektor pariwisata di wilayah pesisir.
Kepala Dinas Perkebunan Berau, Lita Handini, mengatakan, Kelapa Pandan kini masuk dalam daftar tiga komoditas unggulan pertanian, bersama jagung dan kakao.
Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang melihat sektor kelapa memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
“Kelapa, terutama Kelapa Pandan, masuk komoditas unggulan. Kami wajib memberi dukungan penuh agar aktivitas produksi dan potensi wisatanya termaksimalkan,” ujar Lita, Selasa (11/11/2025).
Dalam tiga tahun terakhir, Dinas Perkebunan Berau rutin menyalurkan bantuan bibit kepada petani.
Bibit yang dibagikan fokus pada varietas kelapa genjah, seperti Kelapa Pandan, Kelapa Entok, dan Kelapa Bido.
“Kalau kelapa biasa baru bisa panen setelah lima sampai tujuh tahun, kelapa genjah hanya tiga tahun sudah berbuah. Jenis ini yang kami bantu agar petani bisa lebih cepat mendapatkan hasil,” jelas Lita.
Kelapa Pandan memiliki nilai ekonomi unik karena diarahkan tidak hanya untuk produksi, tetapi juga untuk mendukung pariwisata.
Bibitnya disalurkan sebagian besar ke kawasan pesisir dan destinasi unggulan, seperti Biduk-Biduk (dengan luas lahan kelapa 1.400 hektar) dan Maratua.
Dia menyebut alasan pemilihan Kepala Pandan karena buahnya cocok dikonsumsi sebagai kelapa muda beraroma pandan bagi wisatawan.
Selain itu, batangnya yang pendek cocok untuk mempercantik area wisata dan tidak mengganggu pemandangan.
Program ini juga bertujuan untuk meremajakan pohon kelapa tua di wilayah pesisir yang dinilai sudah terlalu tinggi, sehingga proses panen menjadi sulit dan berisiko bagi petani.
Meski prospektif, pengembangan Kelapa Pandan menghadapi tantangan serius, termasuk tingginya harga bibit dan kasus kegagalan tumbuh karena kurangnya perawatan di lapangan.
“Bibit kelapa itu mahal. Kami berharap petani benar-benar serius kalau mau ikut program peremajaan ini,” ucapnya.
Lita berharap pengembangan Kelapa Pandan dapat menjadi penopang ekonomi baru, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan nilai estetika kawasan wisata Berau. (*/Adv)
