BERAU TERKINI – Di tengah rutinitas dan tekanan keseharian, belasan perempuan di Kabupaten Berau menemukan ruang aman untuk berhenti sejenak, menata pikiran, dan merancang harapan baru.

Melalui Ecocraft Journaling, kegiatan kreatif yang memadukan refleksi diri dan kepedulian lingkungan, para peserta diajak menyelami perasaan sekaligus menuliskannya dengan cara yang menyenangkan.

Kegiatan yang digelar oleh Bumi Lumi berkolaborasi dengan Lingkar Teduh Perempuan (LENTERA) ini diikuti 17 peserta, mayoritas ibu rumah tangga. Mereka berkumpul dalam suasana santai, dengan meja penuh kertas daur ulang, daun dan bunga kering, serta alat tulis warna-warni.

Tak sekadar menulis, ecocraft journaling menjadi media ekspresi sekaligus refleksi awal tahun. Peserta diajak menyusun resolusi, target kecil, hingga langkah konkret agar tahun 2026 lebih bermakna tanpa tekanan, tanpa tuntutan sempurna.

Kelas ini dipandu oleh Konselor Keluarga Puspaga Berau, Nur Hidayah, bersama Riska Mey Liana, praktisi journaling yang aktif mengisi kelas serupa di Berau.

Materi yang dibawakan mencakup pengenalan journaling dari sisi psikologis, teknik refleksi diri, hingga cara menghias jurnal agar lebih personal dan menarik.

Kegiatan Ecocraft Journaling yang digelar oleh Bumi Lumi (Ist)
Kegiatan Ecocraft Journaling yang digelar oleh Bumi Lumi (Ist)

Nur Hidayah menegaskan, journaling bukan sekadar tren, melainkan salah satu metode dasar dalam terapi psikologis.

“Di ruang konseling saya selalu sediakan kertas dan pulpen. Karena pikiran dan perasaan manusia itu liar, maka perlu dituliskan agar lebih terkelola,” jelasnya.

Menurutnya, kegagalan resolusi sering kali bukan karena target yang terlalu berat, melainkan karena rencana yang tidak detail dan tidak sesuai dengan potensi diri.

“Kita geser dari angan-angan ke langkah kecil yang nyata. Fokusnya bukan hasil, tapi kebiasaan yang dibangun secara konsisten,” ujarnya.

Suasana workshop semakin hangat saat peserta mulai berbagi cerita. Tawa sesekali pecah di sela aktivitas menghias jurnal. Banyak peserta mengaku merasa lebih rileks, fokus, dan terhubung dengan diri sendiri setelah mengikuti kelas ini.

Penggagas Bumi Lumi, Arlisa Febriani, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari upayanya menghadirkan ruang edukasi dan berkarya yang inklusif di Berau.

Dengan latar belakang teknik lingkungan, Arlisa sengaja menggabungkan isu lingkungan dengan aktivitas kreatif.

“Bumi Lumi ini terbuka untuk siapa saja. Kalau mau kolaborasi, ayo. Kami ingin jadi ruang belajar, diskusi, dan berkarya,” ungkapnya.

Bumi Lumi sendiri terbilang baru berdiri sejak Desember 2025. Ecocraft journaling menjadi kegiatan keempat yang digelar, setelah sebelumnya mengadakan kelas pembuatan kertas daur ulang, cerita Orangutan untuk anak-anak, serta kelas regulasi emosi.

Selain fokus pada kreativitas, Bumi Lumi juga mengembangkan literasi melalui perpustakaan mini dan ruang baca.

“Harapannya makin banyak orang datang untuk membaca buku, berdiskusi, dan berkarya,” ujar Arlisa.

Antusiasme peserta yang melebihi ekspektasi menjadi penyemangat tersendiri.

“Rata-rata ibu-ibu, tapi saat dikasih tema seperti ini, jiwa muda mereka keluar semua. Ternyata seru dan menyenangkan,” pungkasnya.(*)