BERAU TERKINI – Perilaku penyimpangan yang dilakukan pemuda berprestasi di Kabupaten Berau turut ditanggapi salah satu Psikolog Klinik Everwill dan Klinik Tirta Pemuda, Eka Misniar Dika.

Apa yang dilakukan pelaku tersebut, kata dia, tak jauh berbeda dengan kasus-kasus yang ditanganinya saat berada di RSJ Soerojo Magelang, Jawa Tengah, dan UPTD PPA Balikpapan.

“Dari pengalaman saya, penyebab pelaku melakukan itu ada dua kemungkinan, pelaku pernah menjadi korban penyimpangan seksual dan kecanduan film porno,” ungkap Eka, Senin (24/11/2025).

Eka memaparkan, seseorang yang pernah menjadi korban pelecehan seksual, baik oleh keluarga maupun orang lain, rentan mengalami gangguan psikologis jika tidak mendapat penanganan khusus.

Kondisi tersebut bahkan bisa berubah menjadi dorongan untuk melakukan hal serupa kepada orang lain.

“Jika tidak segera ditangani oleh ahli jiwa, korban bisa tumbuh dengan rasa kepuasan terhadap perlakuan itu, lalu berpotensi melampiaskannya kepada orang lain,” terangnya.

Di sisi lain, kecanduan pornografi juga menjadi faktor berbahaya. 

Menurut Eka, kebiasaan menonton konten pornografi dapat merusak sel otak, terutama pada bagian Lobus Frontal. 

Bagian itu yang bertugas mengendalikan keputusan dan menentukan benar atau salah.

“Ketika bagian otak ini rusak, syahwat tidak bisa dikendalikan dan akhirnya bisa dilampiaskan ke kehidupan nyata,” ujarnya.

Namun, penjelasan itu hanya dugaannya terhadap kelainan seksual yang dimiliki pelaku. Sebab, dirinya tidak menangani langsung kasus dan pelaku.

Bahkan, diakuinya, saat menangani kasus di tempatnya bekerja sebelumnya, mayoritas lebih banyak anak-anak yang menjadi pelaku.

“Ini baru salah satu kasus yang terungkap di Kabupaten Berau. Sebenarnya, saya juga sempat menangani beberapa kasus serupa di Berau. Daerah kita ini juga sebenarnya darurat penyimpangan seksual dan seks bebas,” tuturnya.

Maka dari itu, pihaknya mengimbau kepada orang tua, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan elemen lainnya, agar dapat memberikan informasi pendidikan seksual sejak dini.

Termasuk mengajarkan bagian-bagian sensitif, seperti mulut, dada baik laki-laki maupun perempuan, kemaluan, hingga anus agar tidak bisa disentuh oleh orang lain.

“Selain pendidikan seksual, kepedulian orang tua terhadap anak, maka seharusnya orang tua harus memberikan waktu bagi anak. Ini pesan kepada orang tua agar anak tidak menjadi korban,” pungkasnya. (*)