TANJUNG REDEB – Polres Berau mengungkap sejumlah faktor penyebab meningkatnya kasus kekerasan seksual terhadap anak oleh ayah tiri atau orang terdekatnya.
Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Berau, Iptu Siswanto, mengatakan, lingkungan dan kurangnya komunikasi dalam keluarga menjadi pemicu utama.
“Banyak terjadi karena faktor lingkungan, kedua karena sumber daya manusia. Biasanya, istri dari pelaku tidak melayani, akhirnya pelaku melampiaskan hasratnya ke anak tiri,” kata Siswanto, Kamis (15/5/2025).
Menurutnya, sebagian besar kasus kekerasan seksual anak tiri terjadi di wilayah pinggiran, di mana lingkungan sosial cenderung terbatas dan minim pengawasan.
“Yang dilihat itu-itu saja. Jadi ketika pelaku merasa nyaman dengan anak tiri, itu bisa berujung pada kekerasan seksual,” paparnya.
Selain itu, Siswanto juga mengungkap bahwa anak korban kekerasan biasanya menunjukkan perubahan perilaku yang mencolok. Anak yang tadinya ceria dan sering tertawa, tiba-tiba murung. Hal ini bisa menjadi alarm tanda bahaya.
Guna mencegahnya, pihaknya sudah melakukan beberapa program, seperti rutin melakukan sosialisasi di sekolah-sekolah, terutama tingkat SMP dan SMA.
Menurutnya, masa pubertas yang dialami siswa SMP menjadi fase krusial untuk diberikan edukasi seksual.
“Memang hal-hal berbau seksual itu masih dianggap tabu di kalangan pelajar, khususnya SMP. Tapi mau tidak mau edukasi itu harus diberikan,” ujarnya.
Ia juga mendorong para siswa untuk lebih terbuka pada keluarga, terutama ibu. Serta berharap guru di sekolah dapat berperan aktif dalam memberikan pendidikan tentang pencegahan kekerasan seksual.“Kami harapkan guru bisa memberi pemahaman dan edukasi kepada siswa agar mereka tahu bagaimana cara melindungi diri,” pungkasnya. (*)
