BERAU TERKINI – Sejumlah agenda HUT Berau ditunda hingga aksi demonstrasi Berau Menggugat menjadi peristiwa terpenting di bulan September 2025.

Sejumlah acara dalam rangka hari jadi Kabupaten Berau pada bulan September 2025 ditunda, faktor menjaga kondusivitas daerah dan arahan dari Kemendagri jadi alasan.

Sebagian besar kegiatan acara dalam rangka hari jadi Kabupaten Berau diputuskan untuk ditunda.

Hal itu terungkap dalam rapat koordinasi persiapan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 Kabupaten Berau dan HUT ke-215 Kota Tanjung Redeb yang dilaksanakan di Kantor Bupati Berau, Selasa (2/9/2025) lalu.

Asisten I Setkab Berau, M. Hendratno yang mewakili Bupati Berau, mengatakan keputusan ini mengikuti arahan Kemendagri yang menekankan agar pemerintah daerah tidak menyelenggarakan kegiatan seremonial berlebihan, terutama yang terkesan pemborosan dengan hiburan musik pesta.

Bupati Berau, Sri Juniarsih, dan Wakil Bupati Gamalis, saat peringatan Hari Jadi ke-72 Kabupaten Berau dan ke-215 Kota Tanjung Redeb di Lapangan Pemuda, Senin (15/9/2025).
Bupati Berau, Sri Juniarsih, dan Wakil Bupati Gamalis, saat peringatan Hari Jadi ke-72 Kabupaten Berau dan ke-215 Kota Tanjung Redeb di Lapangan Pemuda, Senin (15/9/2025).

“Seluruh agenda sudah tersusun, namun harus mengikuti arahan pusat. Jadi untuk sementara statusnya pending,” katanya.

Sebagai gantinya, kegiatan bisa dialihkan pada bentuk sederhana, seperti bakti sosial dan aktivitas yang lebih bermanfaat bagi masyarakat.

Kaya Hasil Laut dan Perikanan, Warga Berau Mengonsumsi Ikan Lebih Sedikit dari Orang di Hulu Sungai Mahakam
Warga Berau Brebut ikan gratis dalam acara Irau Manutung Jukut ke 8 tahun 2024. (Foto: Zuhrie/BT)

Salah satu acara yang ditunda dan dibatalkan adalah festival bakar ikan Manutung Jukut.

Dengan pembatalan tersebut, maka ikan segar yang sedianya digunakan untuk acara festival bakar ikan Manutung Jukut bakal disalurkan ke daerah rawan pangan di Berau.

Diketahui, Festival bakar ikan yakni Tradisi Manutung Jukut yang biasanya digelar saat HUT Berau kini dibatalkan.

Ikan segar yang awalnya disiapkan untuk acara Manutung Jukut nantinya dialihkan dan akan disalurkan ke daerah rawan pangan di Berau.

Hal itu diungkapkan Plt Kepala Diskan Berau, Maulidiyah. Dia menjelaskan keputusan mengalihkan kegiatan ini bukan tanpa alasan.

Langkah tersebut diambil sebagai tindak lanjut dari surat edaran Bupati Berau, yang dikeluarkan setelah rapat koordinasi bersama Kemendagri, Forkopimda Berau, serta arahan dari Inspektorat Jenderal Kemendagri.

“Kondisi saat ini kita semua tahu. Berdasarkan surat edaran Bupati, serta hasil zoom meeting dengan Kemendagri, rapat Forkopimda, maka kegiatan Manutung Jukut tahun ini dialihkan,” ujar Maulidiyah

Sebagai gantinya, Diskan Berau menyiapkan program pembagian ikan segar kepada masyarakat di wilayah rawan pangan. Ada dua kecamatan di Berau yang menjadi prioritas yakni Kecamatan Segah dan Kecamatan Kelay.

“Kegiatan Manutung Jukut kita alihkan dengan membagikan ikan kepada daerah rawan pangan. Jadi bukan dibatalkan begitu saja, tapi manfaatnya kita sebarkan langsung ke masyarakat yang membutuhkan,” jelasnya.

Bupati Berau Sri Juniarsih mengungkapkan perbedaan pelaksanaan peringatan Hari Jadi Kabupaten Berau tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya.

Upacara Peringatan Hari Jadi Kabupaten Berau merayakan HUT ke-72 Berau dan HUT ke-215 Kota Tanjung Redeb berlangsung di lapangan Pemuda, Tanjung Redeb, Senin (15/9/2025).

Bupati Berau Sri Juniarsih dalam amanatnya menyebut perbedaan dalam perayaan memperingati Hari Jadi Kabupaten Berau.

Dia mengatakan, perayaan tahun ini digelar lebih sederhana mengikuti instruksi dari Kemendagri.

“Inti dari perayaan hari jadi adalah bersyukur, selain bersyukur atas bertambah umur, kita juga bersyukur atas laut dan tanah kita yang subur, serta masyarakat kita yang hidup damai rukun dan makmur,” kata Sri Juniarsih.

“Rasa syukur ini semestinya tetap ada, meskipun peringatan hari jadi tahun ini sedikit berbeda dari tahun tahun sebelumnya, di mana tahun ini peringatan hari jadi kta laksanakan lebih sederhana sebagaimana arahan dari Menteri Dalam Negeri,” ucapnya.

Meski digelar secara sederhana, Bupati Berau Sri Juniarsih berharap, masyarakat Berau tetap bergembira merayakan HUT Berau, sebab sejumlah prestasi yang diraih oleh Kabupaten Berau dalam beberapa tahun terakhir.

“Tetapi demikian, saya berharap seluruh masyarakat tetap bergembira, karena prestasi yang diukir Kabupaten Berau menjadikan nama Bumi Batiwakkal semakin harum bahkan disegani di tataran nasional,” katanya.

Aksi Berau Menggugat

Selain penundaan sejumlah agenda HUT Berau, peristiwa penting yang terjadi di Berau pada bulan September 2025 adalah aksi Berau Menggugat.

Aksi demonstrasi ini merupakan bagian dari gelombang demonstrasi yang terjadi di hampir seluruh daerah di Indonesia sejak akhir Agustus 2025 lalu.

Di Berau, aksi Berau Menggugat digelar di Gedung DPRD Berau, pada Senin (1/9/2025) lalu.

Massa aksi Berau Menggugat berhasil membawa keluar para anggota DPRD Berau untuk duduk bersama mendengarkan aspirasi mereka.

Dalam aksi demonstrasi tersebut, nampak Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto.

Selain itu, ada pula legislator lainnya seperti Sumadi, Subroto, Agus Uriansyah, Abdul Waris, Kumala Sari, Elita, dan beberapa anggota dewan lainnya.

Dalam dialognya, Edward, salah satu massa aksi, menyampaikan pentingnya anggota dewan untuk mendengar aspirasi masyarakat.

Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto, bersama para peserta aksi demonstrasi di depan Kantor DPRD Berau, Senin (1/9/2025). (Sulaiman/BT)
Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto, bersama para peserta aksi demonstrasi di depan Kantor DPRD Berau, Senin (1/9/2025). (Sulaiman/BT)

Sebab, sudah terlalu banyak persoalan bangsa yang membutuhkan penyembuhan langsung oleh para pemangku kebijakan.

“Catat aspirasi ini, berikan kesempatan bagi kami menyampaikan keresahan,” tuturnya.

Mulai persoalan ekonomi, konflik sosial hingga pemberdayaan tenaga kerja lokal, menjadi tuntutan yang mesti dijawab oleh para anggota dewan.

Tuntutan lainnya yakni menolak RKUHP, menghentikan sikap represif aparat terhadap rakyat, mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk revitalisasi Polri dan cabut jabatan Kapolri.

Selain itu, menolak segala bentuk pembungkam pers, tingkatkan kesejahteraan guru, menolak komersialisasi pendidikan, segera sahkan RUU Perampasan Aset, penegakan supremasi sipil, dan kembalikan TNI ke barak.

“Perda tenaga kerja lokal jangan hanya jadi aturan yang tak punya guna,” tegasnya.

Menjawab tuntutan itu, Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto, menyatakan akan menyampaikan dalam rapat dewan dan membahas dengan eksekutif daerah.

“Kami terima aspirasinya dan akan kami tindak lanjuti,” ucapnya.

Momen content creator Mama Becce ikut dalam aksi demonstrasi Berau Menggugat
Momen content creator Mama Becce ikut dalam aksi demonstrasi Berau Menggugat (Dini Diva Aprilia/BT)

Tak hanya mahasiswa dan aktivis yang ikut dalam aksi, seorang content creator yakni Mama Becce juga ikut aksi demonstrasi, dia menyuarakan kebebasan berpendapat di media sosial.

Aksi demonstrasi dilakukan oleh massa yang berasal dari Berau Menggugat, massa aksi berasal dari berbagai latar belajang mulai dari mahasiswa hingga masyarakat.

Aksi demonstrasi itu dilakukan di halaman Gedung DPRD Berau, Senin (1/9/2025). Salah satu peserta aksi adalah content creator asal Berau yakni Mama Becce.

Mama Becce sempat menyampaikan orasinya dan menyuarakan soal kebebasan berpendapat khususnya di media sosial.

Dia mengaku terkena dampak dari pembatasan sosial media khususnya fitur live yang sempat ditiadakan di saat demonstrasi besar-besaran terjadi dalam tiga hari terakhir.

“Kenapa media-media banyak yang dibungkam? Kami pelaku UMKM mainnya di sosial media, tapi tidak bisa live atau promosi. Kenapa begitu? Itu yang kami pertanyakan,” kata Mama Becce.

Tak hanya kebebasan berpendapat, Mama Becce turut menyuarakan soal sulitnya warga lokal Berau mendapatkan pekerjaan.

Menurutnya masih banyak warga lokal Berau yang hanya jadi penonton di tengah geliat aktivitas perusahaan, seperti halnya perusahaan di sektor pertambangan.

“Kami masyarakat khususnya di pedalaman, khususnya dari Tumbit yang berada di lingkar tambang, banyak yang tidak bekerja. Padahal Dewan bilang 80 persen harusnya masyarakat lokal, tapi faktanya tidak begitu. Itu yang kami aspirasikan,” ungkap Mama Becce.