BERAU TERKINIDinas Perkebunan Kabupaten Berau melaporkan produksi kakao dan kopi masih aman hingga akhir 2024. Namun, industri olahan dari kedua komoditas itu belum berkembang.

Kepala Dinas Perkebunan Berau, Lita Handini, menyebutkan, produksi kakao mengalami peningkatan signifikan sepanjang 2024. Berdasarkan data resmi, total produksi kakao mencapai 463,70 ton, naik dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 416,81 ton.

Namun, situasi berbeda terjadi pada komoditas kopi. Disbun Berau mencatat, produksi kopi di Kabupaten Berau justru mengalami penurunan selama tiga tahun terakhir. Pada 2024, produksi kopi hanya mencapai 4,32 ton, menurun dari 6,05 ton pada 2023, dan 8,51 ton pada 2022.

Lita menjelaskan, peningkatan produksi kakao merupakan hasil dari perbaikan pola tanam, pembinaan kepada petani, serta dukungan bibit unggul dari pemerintah daerah.

“Kami terus melakukan upaya pendampingan kepada petani kakao agar kualitas dan kuantitas produksinya meningkat. Tahun ini ada peningkatan cukup baik,” kata Lita, Rabu (3/9/2025).

Dia juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi produksi kopi yang terus menurun dalam tiga tahun terakhir. Meski begitu, Lita menyatakan produksi dari komoditas tersebut masih terbilang cukup atau aman.

Menurutnya, beberapa faktor seperti usia tanaman yang sudah tua, kurangnya minat petani terhadap budidaya kopi, serta belum maksimalnya peremajaan tanaman menjadi penyebab utama tren penurunan tersebut.

“Tapi saat ini kopi liberika sedang banyak peminatnya, saya berharap hal ini bisa membuat para petani semakin semangat, sehingga produksi kopi di Berau pun bisa terus meningkat,” imbuhnya.

Meskipun produksi kakao meningkat, Lita mengaku hingga saat ini belum ada industri pengolahan hasil perkebunan tersebut di Berau. Hal yang sama juga terjadi pada komoditas kopi.

“Hingga saat ini, memang industri atau usaha pengolahan pascapanen kakao dan kopi di Kabupaten Berau masih terbilang sedikit, kalau kakao yang mengolah itu dari Berau Cocoa, sedangkan kopi itu baru ada dari kafe Seduh Kopi. Dan sisanya, hasil panen masih hanya dijual dalam bentuk bahan mentah atau biji kering,” ujar Lita.

Ia menjelaskan, kondisi ini menjadi tantangan serius dalam pengembangan nilai tambah dari kedua komoditas unggulan tersebut. Petani belum bisa menikmati keuntungan maksimal karena tidak adanya proses hilirisasi yang dilakukan di daerah sendiri.

“Kami berharap ada pihak swasta atau pelaku UMKM yang mulai lebih tertarik lagi untuk mengembangkan usaha pengolahan lokal, baik itu cokelat dari kakao, maupun produk minuman kopi dari biji lokal. Karena potensinya ada, tinggal bagaimana kemauan untuk memulai,” jelasnya.

Sejauh ini, Lita bilang, agroindustri khususnya untuk industri olahan kakao dan kopi di Berau memang masih belum menunjukkan perkembangan signifikan.

Menurut pantauan Dinas Perkebunan, sebagian besar kakao dan kopi dari Berau hanya dijual ke luar daerah, seperti Samarinda dan Balikpapan, bahkan sebagian dikirim ke luar Kalimantan.

Sementara itu, produk olahan seperti cokelat batangan, bubuk kakao, maupun kopi kemasan belum dikembangkan secara lokal. Tidak adanya fasilitas pengolahan, pelatihan teknis, serta keterbatasan akses pasar menjadi kendala utama bagi masyarakat untuk masuk ke sektor industri hilir.

Padahal, dengan nilai tambah dari pengolahan, harga jual produk bisa meningkat dua hingga tiga kali lipat dibanding harga bahan mentah. Selain itu, pengembangan industri olahan diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru dan mendongkrak ekonomi lokal.

“Kami ingin ke depan, Berau tidak hanya dikenal sebagai penghasil kakao dan kopi, tetapi juga produsen produk olahan yang berkualitas dan berdaya saing,” pungkas Lita. (*)