TANJUNG REDEB – Bupati Berau, Sri Juniarsih, memerintahkan kepada jajarannya agar segera membuat formula untuk memastikan proses tanam hingga distribusi hasil pertanian kakao dapat tetap eksis.

Kekhawatiran ini diutarakan Bupati Sri saat melihat langsung proses produksi kakao di Berau Cocoa bersama Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud dan Wagub Seno Aji beberapa hari lalu.

Sri mengaku tak ingin petani kakao di Berau berkurang karena terbuai rayuan perkebunan kelapa sawit yang dianggap lebih menghasilkan.

“Pertanian dan perkebunan kakao harus eksis, pasar kita jelas, bisa ekspor,” sebutnya.

Komoditi ekspor ini dipastikan tak akan kehilangan pasar pasti meski secara ekonomi harga jual biji kakao cenderung fluktuatif.

Akan tetapi, Sri memastikan pasar global membutuhkan biji kakao untuk diolah menjadi coklat ekspor. Sehingga para petani tak perlu risau dengan ancaman kerugian.

Selain itu, kakao berau juga pernah masuk dalam panggung internasional di Cacao of Excellence di Paris, Perancis, pada 2021.

Diketahui, Berau pernah mencatat sejarah dengan mengekspor biji kakao kering langsung ke Amerika Serikat seberat 15 ton pada 2023.

“Sejarah itu sudah dicatatkan, kita harus percaya diri dengan geliat bisnis ini,” kata dia.

Pernah menjadi pembicara dalam forum nasional, Sri percaya diri bila industri kakao akan dapat bertahan. Namun, harus dibekali dengan metode bisnis yang lebih kompleks.

Saat ini, dengan jejeran produk olahan kakao, Berau bukan hanya bisa mengekspor. Namun, Berau dipastikan dapat mengolah biji kakao tersebut menjadi produk yang memiliki nilai jual yang tinggi.

Pemerintah juga tetap akan menjadi mitra petani untuk memberikan ruang promosi produk tersebut.

“Coklat kita dipuji gubernur, itu lampu hijau untuk kita terus melestarikan kakao di Berau,” tegasnya. 

Sebelumnya, Dinas Perkebunan Berau sedang menyusun peta jalan untuk pengembangan kakao dan kelapa di 12 kecamatan di Berau, kecuali Tanjung Redeb.

Peta jalan tersebut bertujuan mengidentifikasi potensi lahan dan sumber daya manusia (SDM) untuk pengelolaan dua komoditas tersebut. Proyek ini dibiayai dari APBD Berau sebesar Rp400 juta.

Data 2024 menunjukkan potensi besar untuk kakao dan kelapa di Berau. Luas lahan kelapa mencapai 2.310,17 hektare dengan produksi 2.571 kg.

Sementara, kakao memiliki luas lahan 1.037 hektare dengan produksi 463,7 kg.

Kepala Disbun Berau, Lita Handini, menyatakan, kepastian pasar adalah kunci utama untuk mendorong petani meningkatkan produksi.

“Kalau pasarnya terjamin, petani pasti mau,” katanya.

Saat ini, pihaknya tengah melakukan survei lapangan untuk mengumpulkan data. Proses penyusunan peta jalan dimulai sejak Maret 2025 dan ditargetkan rampung pada Agustus mendatang.

Setelah peta jalan selesai, Lita berharap lebih banyak program pengembangan dapat diterapkan untuk mengoptimalkan potensi kakao dan kelapa di Berau.

“Kami ingin menjadikan pengelolaan kakao dan kelapa sebagai contoh sukses pengembangan pertanian berbasis komoditas unggulan,” tegas dia. (*/Adv)