BERAU TERKINI – Musyawarah Cabang ke-2 Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Cabang Berau menetapkan Junaidi sebagai Ketua Umum untuk periode 2025–2028.
Kegiatan yang digelar di Hall Room Convention SM Tower Hotel, Jumat (14/11/2025) malam itu, mengukuhkan Junaidi untuk kedua kalinya memimpin organisasi profesi insinyur tersebut.
Mengemban kembali amanah kepemimpinan, Junaidi menegaskan bahwa tugas ini merupakan tanggung jawab moral untuk memajukan profesi insinyur di Bumi Batiwakkal, serta memastikan kontribusi nyata terhadap pembangunan, baik di Kabupaten Berau maupun secara nasional.
Dalam arahannya, Junaidi menyebutkan bahwa kepengurusannya akan menggunakan pendekatan collaborative governance. Suatu metode tata kelola pembangunan yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, masyarakat, LSM, dan seluruh pemangku kepentingan secara sinergis.
“Dengan teori ini, pemerintah bukan satu-satunya aktor pembangunan. Semua pihak memiliki peran yang saling melengkapi. Pendekatan ini sekaligus mendukung prinsip good governance,” ujarnya.
Melalui visi “Sinergi Insinyur Profesional dalam Mendukung Pembangunan Kabupaten Berau yang Berkelanjutan,” Junaidi punya target PII Berau dapat menjadi wadah kontribusi aktif insinyur.
“Khususnya, dalam memberikan solusi inovatif bagi pembangunan daerah,” katanya.
Junaidi memaparkan tiga fokus utama kepengurusannya:
- Peningkatan Kompetensi Insinyur. PII Berau akan memperkuat standar keahlian melalui Program Studi Profesi Insinyur (PSPI) dan sertifikasi. Tujuannya, agar insinyur di Berau memiliki kompetensi berstandar nasional hingga internasional.
- Digitalisasi Organisasi. Pemanfaatan teknologi informasi akan ditingkatkan untuk menciptakan manajemen organisasi yang lebih efektif, transparan, dan mudah diakses.
- Penguatan Kolaborasi Lintas Sektor. PII Berau akan mempererat kerja sama dengan pemerintah, perguruan tinggi, industri, komunitas, hingga media, agar kebijakan pembangunan selaras dengan kondisi teknis di lapangan.
“Kita upayakan agar program kerja tersebut dapat berjalan efektif dan mencapai target yang telah disusun,” tegasnya.

Junaidi, yang juga menjabat sebagai ASN di Dinas PUPR Berau, turut menyoroti tantangan pembangunan daerah pada 2026. Terutama terkait pemangkasan anggaran transfer ke daerah (TKD) yang mencapai 60 persen atau sekitar Rp1,7 triliun.
“Kondisi ini menuntut kita untuk lebih inovatif dalam mencari strategi peningkatan kapasitas keuangan daerah. Saat ini pemerintah daerah sudah mulai mengembangkan potensi kelautan melalui konsep blue economy,” ungkapnya.
Salah satu program jangka panjang yang menjadi perhatian khusus Junaidi adalah Program Peduli Bangunan Pesantren. Gagasan ini muncul dari maraknya kasus bangunan pesantren roboh di luar daerah yang menelan korban jiwa santri.
“Kita tidak ingin kejadian seperti itu terjadi di Berau,” tegasnya.
Untuk mendukung program tersebut, PII Berau akan membentuk Badan Kejuruan Sipil (BK Sipil) yang fokus pada pengembangan keinsinyuran sipil, mulai dari pendidikan, standar upah, hingga pembinaan generasi muda.
“Kita akan menginventarisasi pondok pesantren yang bangunannya dinilai kurang layak untuk kemudian kita benahi dan renovasi,” tambahnya.
Tak hanya itu saja, Junaidi juga akan membuka forum diskusi teknis yang melibatkan para insinyur untuk membahas berbagai persoalan pembangunan. Hasil diskusi tersebut nantinya akan menjadi rekomendasi kepada pemerintah daerah.
“Tidak bisa hanya saya yang berbicara. Harus demokratis. Melalui PII, kita akan memperkuat kolaborasi eksternal dan meningkatkan kompetensi internal,” tutupnya. (adv)
