BERAU TERKINI – Dinamika kunjungan di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Tanjung Redeb mencatatkan tren yang berbeda pada momen Ramadan dan Idulfitri tahun ini. 

Berdasarkan data evaluasi terbaru, jumlah pembesuk warga binaan justru mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. 

Jika pada periode yang sama di tahun lalu jumlah pengunjung menembus angka 700-an orang, tahun ini tercatat menurun di kisaran 600-an pembesuk.

Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan, Danur Tri Gonggo, mengungkapkan, hari pertama lebaran tetap menjadi puncak kepadatan aktivitas di area besukan. 

Penurunan jumlah kunjungan secara umum disinyalir karena faktor domisili keluarga warga binaan yang banyak berasal dari luar kota, seperti Tanjung Selor, Samarinda, hingga Balikpapan.

“Hari paling padatnya di hari pertama lebaran,” ungkap Danur, Selasa (24/3/2026).

Guna mengantisipasi kerawanan selama bulan suci dan masa lebaran, Rutan menerapkan standar pengamanan ekstra ketat dengan mengerahkan 27 personel dari unsur pengamanan, pelayanan, dan pengelolaan.

Kekuatan ini masih ditambah dengan satu regu khusus untuk memperkuat pengawasan di area blok hunian.

Dalam satu sif kerja, kini terdapat dua regu yang bersiaga di pos-pos menara serta sudut-sudut area vital yang dianggap memiliki potensi risiko kebocoran keamanan.

Keamanan di pintu keluar masuk juga menjadi perhatian utama melalui penerapan sistem pemeriksaan ganda bagi setiap pengunjung.

Petugas memasang tali pengikat atau talitis serta stempel ultraviolet (UV) pada tangan pembesuk sebelum diizinkan masuk.

“Dan kami di sini juga menyediakan untuk pengunjung double checker. Jadi di situ kami pasang talitis dan kami stempelkan stempel UV. Sebelum pengunjung keluar, itu di-cross-check di bagian P2U apakah ada talitisnya dan sinar UV-nya itu ada,” jelas Danur.

Meskipun telah menyiapkan fasilitas ruang tunggu yang luas hingga mencakup aula tengah untuk mengantisipasi lonjakan massa, Rutan menyebutkan, penggunaan area besukan sejauh ini masih tertampung di gedung utama dan lapangan tengah.

Sementara itu, secara internal, Rutan tetap memberikan ruang bagi warga binaan untuk menjalankan ibadah Ramadan secara maksimal, mulai dari salat Tarawih hingga tadarus Al-Qur’an.

Dari sisi pembinaan, Rutan Tanjung Redeb terus menjalin kemitraan dengan pihak luar, seperti Batik Putri Maluang dan pelatihan tata boga, untuk membekali warga binaan wanita dengan keterampilan produktif.

Namun, komposisi penghuni saat ini masih menunjukkan tantangan besar bagi penegakan hukum di Berau.

Dari total 620 narapidana dan 98 tahanan, kasus narkotika masih mendominasi secara signifikan.

“80 persennya narkoba, di 10 persennya perlindungan anak, di 10 persennya kriminal umum,” paparnya.

Selain aspek keamanan dan pembinaan keterampilan, kualitas kesehatan warga binaan menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar.

Setiap tahanan baru diwajibkan menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh guna mendeteksi riwayat penyakit sejak dini.

Layanan klinik pun dibuka setiap hari, kecuali hari Minggu, agar setiap warga binaan memiliki akses untuk mengontrol kondisi fisik mereka secara rutin.

Langkah preventif ini diambil untuk memastikan tidak ada warga binaan yang mengalami perburukan kondisi kesehatan selama masa penahanan akibat tidak terpantaunya konsumsi obat atau riwayat medis tertentu. 

“Mulai dari dia diterima tahanan baru itu pasti cek kesehatan dulu untuk mendeteksi ada riwayat apa. Takutnya mungkin dia tidak minum obat atau apa akan jadi merugikan dia sendiri,” pungkas Danur. (*)