BERAU TERKINIPizza mungkin adalah kata yang paling dikenal di seluruh dunia. Makanan ini telah melintasi batas negara dan budaya.

Di Indonesia, kita mengenal pizza sebagai roti bundar pipih dengan aneka toping di atasnya. Sering kali rotinya tebal dan isinya sangat bervariasi.

Namun, pemahaman ini menjadi sangat sederhana jika kita melihat ke negara asalnya. Di Italia, pizza bukanlah entitas tunggal yang seragam.

Pizza di Italia ibarat dialek bahasa. Setiap wilayah memiliki gaya, bentuk, dan rasa yang berbeda.

Perbedaan ini mewakili sejarah, iklim, dan karakter masyarakat setempat. Apa yang Anda makan di Napoli akan sangat berbeda dengan apa yang tersaji di Roma.

Bagi penikmat kuliner sejati, memahami perbedaan ini adalah sebuah petualangan rasa. Kita diajak menelusuri peta Italia melalui sepotong roti.

Mari kita bedah satu per satu jenis pizza yang menjadi ikon di berbagai kota di Italia.

Pizza Napoletana, Sang Legenda dari Selatan

Perjalanan harus dimulai dari Napoli. Kota di selatan Italia ini diakui dunia sebagai tempat lahirnya pizza modern.

Pizza Napoletana adalah standar emas bagi banyak orang. Bahkan UNESCO telah mengakui seni pembuat pizza Napoli sebagai Warisan Budaya Takbenda.

Karakteristik utamanya terletak pada adonannya. Pizza jenis ini memiliki tekstur yang lembut, elastis, dan mudah dilipat.

Pinggirannya, atau yang disebut cornicione, akan menggelembung dan memiliki bercak gosong. Bercak ini didapat dari pemanggangan suhu tinggi di oven kayu bakar.

Pizza ini dimasak sangat cepat. Hanya butuh waktu sekitar 60 hingga 90 detik di dalam oven bersuhu 485 derajat Celcius.

Hasilnya adalah bagian tengah yang basah dan lembut. Jangan harap Anda bisa memegang potongannya dengan kaku seperti pizza Amerika.

Cara memakannya pun unik. Sering kali orang Napoli melipatnya menjadi empat bagian seperti dompet, atau disebut a portafoglio.

Topingnya pun sangat minimalis. Varian Margherita hanya berisi tomat San Marzano, keju mozzarella kerbau, basil segar, dan minyak zaitun.

Kesederhanaan ini menuntut kualitas bahan yang prima. Tidak ada tempat untuk menyembunyikan rasa di balik saus yang rumit.

Pizza Romana, Renyahnya Ibu Kota

Bergeser ke utara menuju ibu kota Roma, kita akan menemukan gaya yang bertolak belakang. Di sini, pizza memiliki karakter yang lebih tegas.

Ada dua jenis pizza yang populer di Roma. Yang pertama adalah Pizza Tonda Romana.

Berbeda dengan gaya Napoli yang lembut, pizza bundar khas Roma ini sangat tipis dan renyah. Saking renyahnya, ia sering disebut scrocchiarella.

Adonannya dipipihkan menggunakan penggiling kayu atau rolling pin. Tujuannya untuk mengeluarkan semua gelembung udara.

Saat dipanggang, ia tidak akan mengembang. Hasilnya adalah dasar pizza yang kokoh dan garing seperti biskuit cracker.

Jenis kedua yang tak kalah populer adalah Pizza al Taglio. Ini adalah pizza yang dipanggang di loyang persegi panjang yang besar.

Pizza ini tidak dijual per loyang utuh, melainkan per potongan. Penjual akan menggunting pizza sesuai ukuran yang Anda minta, lalu menimbangnya.

Adonan Pizza al Taglio lebih tebal dan berongga udara. Teksturnya mirip roti focaccia namun dengan bagian bawah yang garing karena minyak zaitun.

Toping untuk jenis ini sangat variatif. Mulai dari kentang iris, sayuran panggang, hingga aneka daging olahan bisa ditemukan di atasnya.

Sfincione, Roti Tebal dari Sicilia

Menyeberang ke pulau Sicilia, definisi pizza kembali berubah. Di sini, pizza lebih menyerupai roti spons yang tebal.

Masyarakat lokal menyebutnya Sfincione. Secara harfiah, nama ini berarti spons, merujuk pada tekstur adonannya yang menyerap saus.

Bentuknya biasanya persegi karena dipanggang di loyang. Ketebalannya bisa mencapai beberapa sentimeter.

Yang unik adalah urutan topingnya. Sering kali keju diletakkan di bawah saus tomat agar tidak gosong karena waktu panggang yang lama.

Ciri khas lainnya adalah penggunaan tepung roti atau remah roti di bagian paling atas. Ini memberikan tekstur renyah yang kontras dengan rotinya yang empuk.

Rasanya pun cenderung lebih kuat dan gurih. Pengaruh budaya Arab di masa lalu membuat penggunaan rempah dan bahan kuat lebih dominan di Sicilia.

Calzone, Pizza yang Terlipat

Varian lain yang sering membingungkan orang awam adalah Calzone. Banyak yang mengira ini adalah jenis makanan yang berbeda.

Padahal, secara teknis Calzone adalah pizza. Bedanya hanya pada bentuknya yang dilipat setengah lingkaran sebelum dipanggang.

Awalnya, Calzone diciptakan sebagai solusi praktis. Ini adalah cara agar pizza bisa dibawa berjalan kaki tanpa takut topingnya tumpah.

Isiannya terkunci rapat di dalam adonan. Uap panas yang terperangkap di dalam membuat isian Calzone sangat juicy dan matang sempurna.

Di daerah asalnya, isian Calzone klasik biasanya terdiri dari ricotta, salami, dan mozzarella. Saus tomat sering kali disajikan di luar atau sebagai cocolan.

Pizza Fritta, Tradisi Jalanan yang Unik

Belum lengkap rasanya jika tidak membahas Pizza Fritta atau pizza goreng. Ini adalah bukti kreativitas masyarakat Napoli di masa sulit.

Setelah Perang Dunia II, banyak warga tidak memiliki oven kayu bakar karena hancur atau mahal. Namun mereka tetap ingin makan pizza.

Solusinya adalah dengan menggoreng adonan pizza di dalam minyak panas. Hasilnya adalah roti goreng yang menggelembung berisi keju dan tomat.

Rasanya sangat gurih dan teksturnya renyah di luar namun lembut di dalam. Ini adalah jajanan kaki lima atau street food klasik yang wajib dicoba.

Meskipun digoreng, teknik yang tepat membuat pizza ini tidak berminyak berlebihan. Adonannya kering dan ringan saat digigit.

Pentingnya Bahan Baku Autentik

Dari semua varian di atas, ada satu benang merah yang menyatukan semuanya. Itu adalah penghormatan terhadap bahan baku.

Orang Italia sangat serius soal tepung. Mereka menggunakan jenis tepung gandum yang spesifik, biasanya tipe 00, untuk mendapatkan tekstur yang pas.

Ragi yang digunakan pun sering kali ragi alami yang dipelihara bertahun-tahun. Proses fermentasi adonan bisa memakan waktu hingga 72 jam.

Proses panjang inilah yang membuat pizza Italia terasa ringan di perut. Ia mudah dicerna dan tidak membuat perut terasa begah.

Tomat yang dipakai bukan saus instan penuh gula. Mereka menggunakan tomat plum yang dihancurkan kasar untuk mendapatkan rasa asam manis yang segar.

Keju mozzarella yang dipakai juga harus segar. Sering kali masih terendam dalam air dadihnya sebelum dipotong dan ditaburkan.

Eksplorasi Rasa Tanpa Batas

Memahami ragam jenis pizza ini membuka mata kita. Pizza bukan sekadar makanan cepat saji untuk pengganjal lapar.

Ia adalah produk budaya yang memiliki cerita di setiap gigitannya. Ada kebanggaan identitas yang terselip di antara lelehan keju dan saus tomat.

Bagi Anda yang ingin merasakan sensasi rasa yang berbeda, cobalah untuk keluar dari zona nyaman. Jangan hanya memesan menu yang itu-itu saja.

Cobalah tekstur lembut ala Napoli di satu kesempatan. Lalu rasakan renyahnya gaya Roma di kesempatan lain.

Untuk mendapatkan pengalaman kuliner yang menyeluruh dan referensi menu yang variatif, Anda bisa mencari informasi tempat yang tepat. Salah satu referensi lengkap mengenai varian pizza autentik ini bisa Anda lihat di pizzeriaamargellina.com.

Menikmati pizza dengan pengetahuan akan sejarah dan jenisnya akan memberikan kepuasan tersendiri. Selamat bertualang rasa di negeri Italia melalui piring Anda.