TANJUNG REDEB – Permodalan dan akses pasar menjadi dua masalah klasik yang kerap menghambat laju Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Bumi Batiwakkal.
Menjawab tantangan tersebut, pemerintah daerah melalui Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) terus mendorong solusi yang melibatkan kolaborasi multipihak.
Sinergi antara pemerintah, sektor perbankan, serta jaringan pemasaran daring dan luring diyakini menjadi kunci untuk membantu UMKM tumbuh secara berkelanjutan.
Untuk masalah permodalan, kini aksesnya semakin terbuka lebar, tidak hanya dari perbankan tetapi juga melalui berbagai program bantuan dari pemerintah pusat.
Sementara untuk akses pasar, Diskoperindag mengambil peran strategis sebagai fasilitator.
Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita, menjelaskan bahwa peran pemerintah adalah memberikan kail sekaligus membuka akses menuju kolamnya.
“Peran pemerintah daerah sangat krusial untuk memberikan modal dan pelatihan, dan kami di Diskoperindag juga memiliki peran strategis sebagai fasilitator akses pasar,” terangnya.
Ia mencontohkan, pihaknya aktif membuka ‘keran’ pasar bagi produk lokal, salah satunya dengan menggelar berbagai event yang menampilkan produk UMKM.
Namun, Eva mengingatkan bahwa setelah jalan dibuka, keberhasilan akhir tetap berada di tangan para pelaku usaha itu sendiri untuk memanfaatkan peluang yang ada.
Menurutnya, semua dukungan ini diberikan untuk mendorong sebuah transformasi besar. Ini adalah momen penting bagi para pelaku usaha untuk tidak lagi berbisnis dengan cara yang biasa-biasa saja.
“UMKM yang sebelumnya biasa saja, sekarang harus naik kelas. Ini momentum besar untuk perubahan,” tutupnya. (Adv/Aya)
