BERAU TERKINI – Bulog Berau terus menyerap gabah dan beras produksi petani lokal sebagai upaya menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di daerah.
Staf Operasional Bulog Berau, Ade Anggoro, mengatakan sepanjang tahun 2025 pihaknya telah menyerap lebih dari 1.000 ton beras lokal.
Proses pengolahan beras tersebut dilakukan di wilayah Buyung-Buyung yang hingga kini masih menjadi salah satu sentra serapan.
“Sepanjang 2025 kemarin, serapan beras lokal kita sudah lebih dari seribu ton. Kalau pengolahan dilakukan di Buyung-Buyung, dan sampai sekarang masih ada serapan di sana,” ujarnya.
Memasuki awal 2026, Bulog Berau juga telah kembali melakukan penyerapan. Pada Januari saja, jumlah beras lokal yang terserap mencapai sekitar 49 ton.
Ade menjelaskan, frekuensi panen petani di Berau bervariasi. Pada tahun-tahun sebelumnya umumnya petani melakukan panen dua kali setahun.
Namun saat ini, sebagian petani sudah mampu meningkatkan menjadi hingga tiga kali panen dalam setahun, tergantung pola tanam masing-masing.
“Kalau panen itu beda-beda tiap petani. Dulu rata-rata dua kali setahun, sekarang ada yang bisa sampai tiga kali. Tergantung mereka mengatur waktu tanam,” katanya.

Selain beras, Bulog Berau juga menyerap gabah dengan harga pembelian, saat ini masih menetapkan Rp6.500 per kilogram.
Angka tersebut dinilai masih kompetitif di tengah kenaikan harga di sejumlah daerah lain.
“Harga yang kita beli masih Rp6.500 per kilogram. Memang di beberapa daerah lain sudah ada yang naik, misalnya di Jawa bisa sampai Rp7.000. Tapi di sini kita masih mengikuti ketentuan yang berlaku,” jelas Ade.
Bulog Berau berharap penyerapan beras lokal dan gabah dapat terus meningkat seiring bertambahnya produksi petani.
Selain membantu menjaga ketersediaan stok pangan daerah, langkah ini juga diharapkan mampu memberikan kepastian pasar bagi hasil panen petani Berau.(*)
