BERAU TERKINI – Ikan segar seberat 3,7 ton dibagikan secara gratis oleh Pemerintah Kabupaten Berau bagi warga yang bermukim di kawasan rawan pangan, seperti Kecamatan Segah dan Kelay.
Pembagian ikan segar itu merupakan bagian dari keputusan pemerintah yang menunda penyelenggaraan event Manutung Jukut dalam rangka Hari Jadi ke-72 Kabupaten Berau dan ke-215 Tanjung Redeb.
Pemerintah menyediakan satu kantong ikan seberat 2,5 kilogram. Masing-masing kecamatan, seperti Segah, mendapat jatah sebanyak 850 kantong dan Kelay mendapat 650 kantong.
Bupati Berau, Sri Juniarsih, menyampaikan permohonan maaf lantaran kemeriahan hari jadi tahun ini digelar secara berbeda. Sebab, pemerintah dianjurkan Kementerian Dalam Negeri tak membuat event besar apapun selama periode September tahun ini.
“Semoga kemeriahan ini bisa dirasakan oleh masyarakat kampung,” kata Sri Juniarsih, Sabtu (20/9/2025).
Dia menyatakan, pola itu tak menghilangkan esensi dari makna pesta bakar ikan. Sebab, bila sebelumnya terkumpul di pusat kota, kini lebih diberikan langsung ke kampung.
“Karena ini bagian dari bentuk kesyukuran kita atas hasil laut yang melimpah,” tuturnya.
Dia mengatakan, Manutung Jukut sejatinya menjadi cara pemerintah untuk membumikan kebiasaan mengonsumsi ikan yang kaya protein.
Program itu dirancang dalam Gemar Konsumsi Ikan (Gemarikan). Program jangka panjang untuk menuju Indonesia Emas 2045.
“Alhamdulillah dengan metode ini Berau masih damai dan aman,” ucapnya.
Selain itu, dia menyatakan, ikan tersebut diberikan demi memperbaiki gizi para anggota keluarga serta membiasakan anak untuk mau mengonsumsi ikan.
“Ini perbaikan gizi, kita harus gemar makan ikan. Karena hasil laut kita melimpah,” kata dia.
Dirinya pun berpesan kepada setiap kepala kampung agar mendistribusikan hasil laut tersebut ke warganya. Sehingga, ikan tak berkurang kualitasnya ketika sampai ke meja makan warga.
“Ini ikan segar yang didapat dari nelayan-nelayan kita,” bebernya.
Plt Kepala Dinas Perikanan Berau, Maulidiyah, menyampaikan, saat ini pengolahan ikan di Bumi Batiwakkal mengalami kemajuan.
Ikan tersebut tak hanya diolah lalu dijual habis dalam sehari, namun dikemas dalam wadah yang lebih menarik. Sehingga, dapat disimpan dalam waktu yang lumayan lama dan tetap bisa dikonsumsi.
Cara itu disebut sebagai upaya diversifikasi hasil laut. Diolah secara mandiri lewat industri kreatif binaan pemerintah.
“Hasil laut kita melimpah, kita harus manfaatkan untuk kecerdasan anak bangsa dan kemandirian ekonomi,” kata Maulidiyah.
Dia membeberkan, warga Berau termasuk daerah yang tinggi dalam mengonsumsi ikan.
Dalam setahun, per kapita mengonsumsi ikan seberat 69 kilogram dan berada di urutan ketiga di Kaltim. Secara nasional, rerata angka konsumsi ikan per kapita mencapai 60 kilogram per tahun.
Angka tersebut menurutnya masih sangat baik. Namun masih perlu peningkatan agar semua lapisan masyarakat dapat mengonsumsi ikan yang kaya protein selain daging merah dari sapi.
“Kita harus bangga, tapi harus terus ditingkatkan,” harapnya. (*/Adv)
