BERAU TERKINI – Lutung Kutai (Presbytis canicrus) yang sempat dinyatakan hilang kini kembali ditemukan di Hutan Lindung Wehea, namun nasibnya ironis karena belum masuk daftar satwa dilindungi negara meski berstatus terancam punah secara global.
Primata misterius ini memiliki penampilan fisik yang sangat khas hingga memancing imajinasi para pengamatnya. Awaluddin Jalil, seorang jurnalis di Kalimantan Timur yang pernah mengikuti survei satwa ini di Hutan Lindung Wehea, bahkan menjulukinya sebagai “Lutung Drakula”.
“Karena ciri khas fisiknya, yaitu warna putih atau abu-abu yang sangat dominan di leher hingga dada, membuatnya terlihat seperti mengenakan jubah,” kata Jalil menggambarkan satwa tersebut.

Minim Data Sains Jadi Kendala
Keunikan fisik tersebut berbanding terbalik dengan status perlindungannya yang lemah. Spesialis Spesies Terancam Punah Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), M. Arif Rifqi, membenarkan bahwa sebaran satwa ini di dunia sangat sempit, hanya terdeteksi di tiga tempat, termasuk Wehea.
Namun, Arif menyayangkan hingga kini Lutung Kutai belum mendapatkan payung hukum konservasi yang kuat di Indonesia.
“Sampai sekarang jenis ini masih belum termasuk jenis dilindungi, walaupun sebarannya sempit dan kondisinya terancam,” ungkap Arif Rifqi.
Ia menduga, absennya Lutung Kutai dari daftar perlindungan (Permen LHK P.20/2018) terjadi karena pemerintah tidak mendapatkan data sains yang memadai saat penyusunan aturan. Padahal, sejak Konferensi Primata 2014, spesies ini sudah dinyatakan terpisah dari Lutung Banggat (Presbytis hosei).
Arif juga membeberkan fakta unik mengenai perilaku sosial Lutung Kutai yang sulit dipelajari.
“Lutung itu struktur sosialnya sedikit berbeda. Kalau satu kelompok banyak betinanya, itu kelompok dominan. Kalau kelompok itu banyak jantannya, itu kelompok oportunis yang bisa mengkudeta,” paparnya.

Benteng Terakhir di Wehea
Di tengah ancaman kepunahan dan kekosongan perlindungan hukum, harapan hidup sang “Drakula” kini bergantung pada kearifan lokal. Manajer Kemitraan Program Terestrial YKAN, Edy Sudiono, menegaskan peran vital masyarakat adat Dayak Wehea sebagai benteng terakhir pelestarian habitat.
“Hutan Lindung Wehea ini sebetulnya inisiatif awal belajar dari pengelolaan hutan yang banyak konflik dan illegal logging. Dari sini kita coba membangun satu model yang melibatkan masyarakat adat,” ujar Edy Sudiono.
Model pengelolaan berbasis adat sejak 2004 ini terbukti sukses memulihkan kondisi hutan yang dulunya rusak akibat pembalakan liar, sehingga kini menjadi rumah aman bagi Lutung Kutai.
“Masyarakat suku Dayak Wehea yang cukup kecil penduduknya, membuat karya lokal untuk nasional dan dunia sebetulnya dengan mengelola hutan lindung Wehea,” pungkas Edy. (*)
