BERAU TERKINI – Pemerintah Kabupaten Berau terus mendorong pengembangan produk unggulan daerah melalui hilirisasi.

Salah satunya terasi dari Kampung Buyung-Buyung, Kecamatan Tabalar.

Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau, Eva Yunita, mengatakan, saat ini, rumah produksi terasi di kampung tersebut telah selesai dibangun.

Menurutnya, pembangunan rumah produksi ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, yakni pemerintah kampung, Bank Indonesia (BI), pemerintah kabupaten, serta akademisi.

Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita.
Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita.

“Pemerintah kampung menyediakan lahan, kemudian pemerintah kabupaten menyiapkan sarana pembangunan, BI membantu peralatan, dan pihak universitas melakukan kajian. Sekarang sudah terbangun satu rumah produksi,” ujarnya.

Eva menjelaskan, pembangunan tersebut merupakan tahap awal dari rencana pengembangan yang lebih besar.

Dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang), pemerintah kampung kembali mengusulkan agar pembangunan dapat dilanjutkan mengingat kebutuhan fasilitas yang masih cukup banyak.

Ia menambahkan, untuk tahap awal, fasilitas yang dibangun difokuskan pada proses pengemasan produk. 

Rumah produksi ini akan mengolah bahan setengah jadi yang berasal dari masyarakat nelayan, kemudian diproses dan dikemas agar memiliki nilai tambah.

“Selama ini masyarakat sudah memproduksi, tapi masih dalam bentuk bahan mentah atau setengah jadi. Sekarang kita olah lebih lanjut dan kemas di rumah produksi, sehingga nilai jualnya lebih tinggi,” jelasnya.

Ke depan, pada rencana kerja 2027, Diskoperindag Berau berupaya menambah fasilitas berupa galeri kecil sekaligus sekretariat bagi pengelola.

Namun, realisasi tersebut masih bergantung pada kondisi anggaran.

“Mudah-mudahan di 2027 bisa terealisasi dan tidak terdampak efisiensi anggaran. Karena ini penting untuk mendukung pengembangan produk,” katanya.

Eva menegaskan, pengembangan terasi Buyung-Buyung sejalan dengan misi pemerintah daerah dalam mendorong ekonomi berbasis hilirisasi.

Diharapkan, produk terasi khas Berau dapat dikenal lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Kami ingin terasi Berau ini tidak hanya dikenal sebagai bahan mentah, tetapi sebagai produk jadi dengan kemasan yang baik dan siap dipasarkan secara luas,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga menyebutkan, rumah produksi tersebut tidak hanya akan dimanfaatkan masyarakat Buyung-Buyung, tetapi juga dapat menampung bahan baku dari kampung lain yang memiliki potensi serupa, seperti wilayah sekitar pesisir.

“Jadi tidak semua kampung harus punya rumah produksi sendiri. Nanti bahan baku dari daerah lain bisa dibawa ke sini untuk diolah dan dikemas,” imbuhnya.

Adanya pengembangan ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk, memperluas pasar, serta mendorong kesejahteraan masyarakat pesisir Berau. (*/Adv)