TANJUNG REDEB – Harga cabai di Berau cenderung fluktuatif, Dinas Pangan sebut karena cuaca tak menentu yang menyebabkan pasokan tak konsisten.

Harga cabai rawit dan cabai merah di Berau, masih mengalami fluktuasi yang cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

Dinas Pangan Berau menyebutkan bahwa kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi salah satu faktor utama penyebab naik turunnya harga dua komoditas hortikultura tersebut.

Kepala Dinas Pangan Berau, Rakhmadi Pasarakan menjelaskan bahwa cuaca ekstrem yang belakangan terjadi, seperti hujan yang turun secara tiba-tiba disertai suhu panas yang tinggi di hari-hari berikutnya, berdampak langsung pada produktivitas pertanian, khususnya tanaman cabai.

Kepala Dinas Pangan Berau, Rakhmadi Pasarakan.
Kepala Dinas Pangan Berau, Rakhmadi Pasarakan.

“Memang harga cabai ini selalu fluktuatif harganya, nanti naik, terus turun. Karena di Berau ini, cuacanya sedang tidak stabil, sehingga membuat tanaman cabai menjadi rentan terserang penyakit dan gagal panen. Ini yang menyebabkan pasokan dari petani menjadi tidak konsisten,” ujarnya saat dihubungi Berauterkini.co.id, Senin (25/8/2025).

Lebih lanjut, Rakhmadi menilai, kondisi ini tidak hanya berdampak pada pedagang, tetapi juga pada masyarakat yang mengeluhkan mahalnya harga kebutuhan pokok tersebut.

Untuk itu, ia bilang, dalam menghadapi kondisi tersebut, Dinas Pangan Berau telah menyusun beberapa strategi guna menstabilkan harga serta menjamin ketersediaan cabai di pasar lokal.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mendorong penguatan kelompok tani hortikultura lokal, agar mereka bisa menerapkan sistem budidaya yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim, seperti penggunaan mulsa plastik dan sistem irigasi tetes (drip irrigation) untuk mengurangi dampak kekeringan.

“Kami juga memberikan pelatihan kepada petani untuk mengantisipasi hama dan penyakit tanaman cabai yang cenderung meningkat saat cuaca ekstrem,” imbuhnya.

Tak hanya itu, Rakhmadi mengatakan bahwa pihaknya juga senantiasa mendorong penggunaan varietas cabai yang lebih tahan terhadap cuaca tidak menentu.

Langkah lain yang diambil, dia sebut yaitu, dengan membangun kerja sama distribusi antara petani dan pedagang melalui skema kemitraan, agar rantai pasok tetap terjaga meski produksi menurun.

“Kami juga telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat Berau, untuk sebaiknya menanam cabai sendiri di halaman rumah, karena tanaman ini mudah tumbuh dimanapun, asal perawatannya harus konsisten,” kata dia.

Dia juga menuturkan bahwa Dinas Pangan Berau secara aktif terus melakukan monitoring harga dan pasokan setiap pekan untuk mendeteksi lebih dini potensi lonjakan harga.

“Kami juga menjajaki kemungkinan penguatan cadangan pangan daerah, termasuk stok cabai kering yang bisa dijadikan alternatif pasokan jika harga cabai segar melonjak drastis,” tuturnya.

Pedagang sayur di Tanjung Redeb Berau
Pedagang sayur di Tanjung Redeb Berau (Nadya Zahira/BT)

Sebagai informasi, berdasarkan pantauan Berauterkini.co.id, di sejumlah warung sayur-mayur, harga cabai merah tengah mengalami penurunan. Dari yang sebelumnya mencapai Rp 73.000 per kilogram, saat ini hanya Rp 60.000 – Rp 65.000 per kilogram.

Sementara itu, cabai rawit justru mengalami kenaikan. Dari yang sebelumnya Rp 80.000 per kilogram, saat ini sudah mencapai Rp 85.000 – Rp 87.000 per kilogram.

“Memang dari akhir Juli hingga awal Agustus 2025, harga cabai merah masih mahal, sekitar Rp 70.000 – Rp 75.000 per kilogramnya, tapi sekarang mulai turun jadi Rp 60.000 per kilogram. Karena produksi dari petaninya banyak ya. Kalau cabai rawit ini bergantung terhadap cuaca, jadi kalau cuacanya enggak karuan panennya gagal, makannya harganya naik,” kata Pedagang Siti, Senin (25/8/2025).

Dia berharap, harga cabai rawit dan merah di Berau bisa kembali stabil agar para pelanggan setianya bisa membeli dua komoditas tersebut dalam jumlah yang banyak, sehingga warung tetap ramai dan balik modal.