BERAU TERKINI – Hampers Lebaran yang berisikan produk lokal khas Berau menjadi upaya meningkatkan UMKM.

Produk UMKM di Berau kini mulai dikemas dalam bentuk hampers atau parcel khas daerah.

Inisiatif ini digagas oleh Borneopreneurs Community sebagai upaya memperluas promosi sekaligus pemberdayaan pelaku UMKM lokal.

Owner King Madu Borneo, Farida, yang juga pendiri Borneopreneurs Community, menjelaskan bahwa ide tersebut berawal dari keinginan menghadirkan hampers yang tidak sekadar menjadi bingkisan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi bagi pelaku usaha lokal.

“Awalnya memang terinspirasi dari kebutuhan hampers pada momen Ramadan dan Idulfitri. Tapi kemudian kami melihat potensi yang lebih besar, sehingga hampers ini dikembangkan menjadi paket cinderamata khas Berau yang bisa digunakan dalam berbagai kegiatan daerah,” ujarnya pada Berauterkini.co.id

Menurut Farida, hampers ini berbeda dari parcel pada umumnya karena seluruh isinya berasal dari produk UMKM Berau yang memiliki identitas dan cerita lokal.

Selain untuk bingkisan hari raya, paket tersebut juga dapat dijadikan souvenir bagi tamu daerah maupun peserta kegiatan resmi.

Hampers produk lokal Berau (Ist)
Hampers produk lokal Berau (Ist)

“Kami ingin hampers ini menjadi cara sederhana untuk mengenalkan produk lokal Berau kepada masyarakat luas, termasuk tamu dari luar daerah,” katanya.

Dalam satu paket hampers, terdapat berbagai produk khas yang diproduksi oleh pelaku UMKM lokal.

Diantaranya madu hutan asli dari King Madu Borneo, kue sarang semut dari Bunda Nurul yang merupakan kue khas suku pesisir, Pagaddi Angka 8 dari Mayas yang juga merupakan kue tradisional Berau, serta brownies crispy dari Zaldin.

Selain itu, ada pula produk lainnya seperti Kalampuri Crispy, terasi, dan berbagai olahan khas daerah.

Farida menjelaskan, seluruh produk tersebut berasal dari UMKM yang tergabung atau berkolaborasi melalui jaringan Borneopreneurs Community.

Setiap pelaku usaha tetap memproduksi produknya secara mandiri, kemudian produk tersebut dikurasi dan dikemas bersama dalam satu hampers.

“Dengan konsep kolaborasi ini, satu paket hampers bisa sekaligus mendukung beberapa UMKM lokal,” jelasnya.

Respons masyarakat terhadap hampers produk lokal ini pun dinilai cukup positif. Banyak pihak yang tertarik karena konsepnya dianggap unik sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap produk daerah.

“Beberapa instansi dan komunitas juga mulai melirik hampers ini sebagai pilihan souvenir khas Berau,” tambahnya.

Permintaan biasanya meningkat menjelang Ramadan dan Idulfitri. Namun Farida menegaskan bahwa hampers tersebut juga disiapkan untuk berbagai kegiatan lain, seperti event daerah, paket souvenir kegiatan, hingga cinderamata bagi tamu pejabat atau mitra pemerintah daerah.

Meski demikian, proses penyediaan hampers juga memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah mengoordinasikan produksi dari beberapa UMKM agar stok tersedia pada waktu yang sama, sekaligus menjaga kualitas produk dan kemasan.

“Tantangan utamanya memastikan semua UMKM siap produksi dengan standar kualitas yang baik, karena sebagian besar merupakan usaha rumahan,” ungkapnya.

Ke depan, Borneopreneurs Community berharap hampers ini dapat menjadi salah satu cinderamata khas Berau yang dikenal luas.

Dengan begitu, produk UMKM lokal bisa semakin berkembang dan memiliki pasar yang lebih luas.

“Kami berharap hampers ini bisa menjadi media promosi bersama bagi UMKM Berau, sehingga produk lokal semakin dikenal, termasuk oleh tamu dari luar daerah,” pungkas Farida. (adv)