BERAU TERKINI – CAN Borneo bersama BKSDA Kaltim berhasil menyelamatkan induk orangutan dan dua bayi kembarnya.

Habitat asli orangutan di salah satu hutan di Kutai Timur Kaltim rusak oleh aktivitas pertambangan dan perkebunan kelapa sawit.

Akibatnya seekor induk orangutan dan dua bayi kembarnya harus hidup dalam kesulitan.

Induk orangutan dan dua bayi kembarnya itu terlihat berjuang mempertahankan kehidupan di tengah luasan hutan dan area habitat yang semakin terhimpit.

CAN Borneo bersama BKSDA Kaltim melakukan rescue terhadap induk dan dua anak orangutan di habitat yang rusak (Ist)
CAN Borneo bersama BKSDA Kaltim melakukan rescue terhadap induk dan dua anak orangutan di habitat yang rusak (Ist)

Mendapatkan informasi tersebut pihak CAN Borneo dan BKSDA Kaltim memutuskan untuk melakukan penyelamatan atau rescue kepada induk orangutan dan dua bayi kembarnya.

Direktur dan Founder CAN Borneo Paulinus Kristanto menjelaskan alasan rescue terhadap orang utan tersebut.

“Dilihat bahwa lokasi ini memang hutannya sudah tidak mendukung, apalagi dengan kondisi ibu dan bayi kembar, artinya ibunya harus ekstra nih, untuk menyesuaikan kebutuhan susu anaknya ini,” ujar Paulinus Kristanto.

“Kondisi habitannya tidak memungkinkan, akhirnya diputuskan bahwa orang utan ini harus diselamatin. Dan dipindahkan, atau istilahnya ditranslokasi,” jelasnya.

Paulinus Kristanto mengatakan proses rescue dilakukan bersama dengan BKSDA Kaltim.

Dia mengatakan, proses rescue berjalan dengan sangat lancar, bahkan dia menilai proses rescue orangutan itu sebagai sebuah keajaiban.

“Akhirnya BKSDA Kaltim memutuskan untuk melakukan rescue bareng-bareng dengan CAN,” ujarnya.

“Jadi evakuasinya tuh cepet banget, si bayinya itu gak rewel. Bayinya itu menempel sama ibunya. Jadi ibu-ibunya udah kita bius, bayinya kita pindahkan dengan mudah tanpa ada tangisan. Jadi memang, ini keajaiban lah ya kasus penyelamatan ini,” jelasnya.

CAN Borneo bersama BKSDA Kaltim melakukan rescue terhadap induk dan dua anak orangutan di habitat yang rusak (Ist)
CAN Borneo bersama BKSDA Kaltim melakukan rescue terhadap induk dan dua anak orangutan di habitat yang rusak (Ist)

Sementara itu, Kepala BKSDA Kaltim M Ari Wibawanto menjelaskan lokasi baru habitat induk orangutan dan kedua bayi kembarnya berada tak jauh dari lokasi ditemukan.

Dia menjelaskan lokasi habitat baru berada di area High Conservation Value atau HCV yang merupakan milik perusahaan.

Menurutnya, lokasi baru habitat orangutan dipilih karena mempertimbangkan sejumlah faktor. Mulai dari kondisi fisik orangutan hingga kelayakan kondisi habitat baru.

“Kami tidak bisa melakukan pelepasliaran pada lokasi yang jauh, kami harus melakukan pelepasliaran itu pada lokasi hutan yang terdekat, jadi yang paling dekat ya di HCV-nya perusahaan itu yang paling dekat kurang lebih berapa kilo,” kata M Ari Wibawanto.

“Berdasarkan kajian, bahwa lokasi tersebut masih layak untuk dilakukan pelepasliaran dari sisi fisik, biologi maupun dari sosial. Kedua, bahwa yang kita rescue ini kan anak dan induk yang sudah cukup lelah di lokasi habitatnya, karena itu keselamatan itu yang menjadi prioritas kami, jelasnya.