BERAU TERKINI – Dermaga Teluk Sulaiman kini berdiri kokoh dengan spesifikasi khusus yang mampu bertahan dari potensi gempa hingga tsunami.
Infrastruktur yang menjadi andalan masyarakat pesisir selatan Bumi Batiwakkal ini dibangun selama lima tahun dengan total anggaran mencapai Rp54 miliar, yang bersumber dari APBD Berau dan Bantuan Keuangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Kepala Dinas Perhubungan Berau, Andi Marewangeng, menjelaskan, desain dermaga ini memang disiapkan secara matang untuk menghadapi ancaman bencana.
Sebagai pejabat yang menuntaskan pembangunannya, pria yang akrab disapa Andi Ewang ini menjelaskan, perencanaan struktur bangunan tersebut telah melalui kajian mendalam terhadap potensi kegempaan di Berau.
Apalagi, kawasan pesisir Berau dikelilingi oleh jaringan lempengan sesar aktif, mulai dari sesar Maratua, Sangkulirang, Palu, hingga sesar Sampurna di Tarakan.
Lokasi geografis inilah yang menempatkan wilayah tersebut dalam zona potensi bencana gempa dan tsunami.
Meskipun daratan Borneo tidak memiliki gunung berapi aktif, sejarah mencatat rekam jejak gempa yang nyata.
Pada 14 Mei 1921, atau tepat 104 tahun silam, Sangkulirang pernah diguncang gempa hebat berkekuatan 6,9 Magnitudo yang memicu tsunami.
Secara siklus, masa 100 tahun merupakan periode rawan terjadinya perulangan bencana.
Andi menyebut pergeseran lempeng tersebut berpotensi terjadi kembali dalam rentang 125-150 tahun pasca kejadian pertama.
“Itu sudah dikaji secara ilmiah, Bidukbiduk dikelilingi lempeng. Bangunan ini kami proyeksi bisa bertahan hingga 50 tahun ke depan,” terang Andi Ewang saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (19/1/2026).
Menyikapi risiko tersebut, Dermaga Teluk Sulaiman dibangun mengacu pada standar keamanan tinggi, yakni SNI Nomor 1726/2019 tentang ketahanan gempa untuk struktur gedung dan non-gedung, SNI Nomor 2874/2019 tentang beton struktural, serta SNI 1729/2020 tentang bangunan struktur baja.
“Ini sudah berdasarkan kajian yang mendasar pada kebutuhan kita di daerah pesisir,” ungkapnya.
Konstruksi dermaga dirancang untuk menahan kombinasi beban mati, beban hidup, tekanan angin, hingga guncangan gempa yang ekstrem.
Bahkan, tim desainer menggunakan parameter gempa El-Centro di Meksiko yang mencapai kekuatan 9 Magnitudo sebagai acuan beban puncak.
“Beban gempa tertinggi di Indonesia ada di Aceh, kami desainer menggunakan gempa El-Centro yang pernah terjadi di Mexico mencapai 9 magnitudo,” beber Andi.
Secara teknis, struktur beton bertulang ditanam sebagai tiang pancang hingga kedalaman 29,8 meter untuk meredam gerakan horizontal akibat gelombang dan angin.
Mengingat tinggi air pada level maksimal bisa mencapai 11,8 meter, dipasang pula bresing baja pada setiap titik pengikat tiang pancang.
Fungsinya adalah untuk meredam getaran, baik dari aktivitas operasional di atas dermaga maupun guncangan gempa.
“Makanya kami buat kaku agar bisa meredam guncangan,” tuturnya.
Saat ini, dermaga yang baru diserahterimakan ke Dishub Berau pada 15 Desember 2025 tersebut masih dalam masa pemeliharaan selama enam bulan.
Selama periode ini, pengawasan dilakukan secara intensif untuk memastikan seluruh fungsi struktur sesuai dengan rencana awal.
“Ini masih pemeliharaan, jadi aktivitas masih terbatas,” tegas Andi. (*)
