BERAU TERKINI – Progres pembangunan Balai Latihan Kerja (BLK) yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Berau menunjukkan hasil positif.

Tak sampai lima bulan, proyek BLK tahap pertama senilai Rp8,8 miliar tersebut sudah mencapai hampir 60 persen.

Diketahui, pembangunan BLK tersebut merupakan program prioritas pemerintah sejak periode pertama Bupati Berau Sri Juniarsih bersama Wakil Bupati Gamalis.

Langkah serius ini dikerjakan pada tahun pertama di periode kedua pasangan tersebut untuk menjawab kebutuhan peningkatan skill para pencari kerja yang berasal dari warga lokal.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Berau, Zulkifli Azhari, menjelaskan, berdasarkan laporan kontraktor pelaksana, gedung tahap pertama tersebut akan siap digunakan pada awal 2026.

“Kalau bangunan, nanti rampungnya Desember tahun ini,” sebut Zulkifli, Jumat (5/9/2025).

Pembangunan BLK tersebut berada di lahan seluas 5 hektare milik pemerintah. Lahan tersebut yang akan dimanfaatkan untuk menjadi tempat peningkatan skill para pencari kerja di Berau.

Para pencari kerja nantinya akan mendapatkan sertifikat untuk syarat melamar pekerjaan di dua sektor unggulan di Berau, yakni perkebunan dan pertambangan.

Zulkifli mengatakan, fokus utama pada pelatihan alat berat. Hal ini mempertimbangkan tingginya kebutuhan operator di sektor pertambangan dan perkebunan di daerah.

Peralatan yang akan digunakan dalam pelatihan mencakup excavator, bulldozer, forklift, hingga crane.

Selain bidang alat berat, BLK juga akan membuka pelatihan otomotif, pengelasan, komputer, hingga menjahit.

“Lahan ini sangat luas, banyak fasilitas yang bisa dibangun di lahan ini,” tuturnya.

Dia juga menyampaikan, pada tahap kedua, kawasan BLK tersebut akan dilakukan penambahan tiga ruang belajar baru, asrama tambahan, serta sarana pendukung lain yang saat ini masih dalam proses usulan ke Dinas PUPR.

Setiap kelas hanya menampung maksimal 16 peserta sesuai regulasi Kementerian Ketenagakerjaan agar pembelajaran kompetensi berjalan efektif.

Lulusan nantinya akan mendapatkan sertifikat resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang diakui secara nasional.

Pembangunan tersebut diyakini dapat menekan tingginya biaya sertifikasi bila mengikuti di luar daerah. Dalam satu kelas dengan jumlah 16 orang dapat menelan biaya sampai Rp400 juta.

“Semoga dengan adanya ini biaya tersebut bisa dibuat lebih terjangkau,” harapnya.

Sementara itu, Bupati Berau, Sri Juniarsih, menegaskan, pemerintah telah memberikan fokus pembangunan pada pengembangan sumber daya manusia (SDM) lokal.

SDM tersebut diharapkan dapat bersaing dengan para tenaga luar daerah yang juga mengadu nasib di Bumi Batiwakkal.

“Kita tidak mau orang lokal menjadi penonton di rumah sendiri,” tegasnya.

Sri berharap, ke depan, para pemuda di Berau tak hanya berdiam diri dengan mengharapkan program sosial pemerintah. Sebab, dalam masa produktif, generasi muda harus mengambil peran dalam pembangunan.

Pihaknya pun berkomitmen untuk menekan angka pengangguran terbuka. Berdasarkan data pada 2024, angka TPT di Berau mencapai 5,15 persen yang dapat ditekan melalui pembukaan lapangan kerja bagi usia produktif.

“Kawula muda harus produktif, kami siapkan tempatnya untuk mencari rezeki,” sebutnya. 

Ke depan, pemerintah juga akan mencoba untuk mengembangkan sektor lain yang lebih menjanjikan ketimbang sektor pertambangan.

Sektor usaha pariwisata diyakini dapat hidup secara berkelanjutan mengingat Berau memiliki kekayaan di sektor wisata.

“Nanti kebutuhan sektor itu harus ada juga di BLK,” tegas bupati perempuan pertama di Berau tersebut. (*/Adv)