TANJUNG REDEB – Berikut ini rangkuman pemberitaan soal gas melon di Berau yang mulai langka dan harga di atas HET.
Warganet di Berau keluhkan kelangkaan gas LPG 3 kg atau gas melon. Jika pun ada, harganya jauh di atas harga eceran tertinggi atau HET.
Harga gas melon yang langka disikapi oleh sejumlah warga, seperti halnya pedagang makanan yang memilih untuk tidak menaikan harga jual meski biaya produksi meningkat.
Di sisi lain, Diskoperindag Berau telah memanggil pihak agen dan pangkalan gas LPG 3 kg guna mencari penyebab akan kelangkaan dan kenaikan harga di tingkat konsumen.
Dirangkum Berauterkini.co.id berikut ini sejumlah pemberitaan mengenai gas LPG 3 kg:
Warganet Keluhkan Kelangkaan Gas Melon hingga Harga di Atas HET
Warga di sejumlah kecamatan di Kabupaten Berau mengeluhkan tingginya harga gas LPG 3 kg yang jauh melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.
Diketahui HET untuk wilayah Tanjung Redeb dan sekitarnya berada di kisaran Rp 25.000 per tabung. Namun sejumlah warganet di Berau menyampaikan harga gas LPG 3 kg bisa menyentuh angka hingga Rp 50.000 per tabung.Berau tourism
Keluhan itu disampaikan oleh sejumlah warganet di kolom komentar Facebook Berauterkini, pada Senin (4/8/2025).

Salah seorang warganet menyebut harga gas LPG 3 kg di Kecamatan Segah bisa mencapai Rp 60.0000, jika sedang langka harga gas melon bisa mencapai Rp 70.000 per tabung.
Warganet lainnya menyebut harga gas LPG 3 kg di Tumbit Melayu, Teluk Bayur di kisaran Rp 40.000 hingga Rp 45.000, apabila sedang langka harga gas melon bisa mencapai Rp 50.000 per tabung.
Harga gas melon per tabung bisa mencapai Rp 55.000 dikeluhkan oleh warganet asal Desa Suaran, Sambaliung.
Pedagang Sebut Pasokan Gas LPG 3 Kg Berkurang
Sejumlah pedagang di tingkat pengecer hingga agen menyebutkan stok pengiriman yang dibatasi membuat gas LPG 3 kg menjadi langka.
Hal itu diungkapkan oleh agen tabung gas elpiji, Rahma, dia mengatakan kelangkaan yang terjadi karena stoknya dibatasi, yaitu jatahnya hanya 2-3 kali pengiriman dalam satu bulan.
Kondisi itu yang membuat gas LPG 3 kg tersebut sering habis, terlebih peminatnya lebih banyak dibandingkan dengan gas lainnya.

“Sebenarnya bukannya engga ada, cuma memang stoknya terbatas karena kami pengirimannya itu dijatahkan hanya 2-3 kali saja dalam satu bulan,” kata Rahma kepada Berauterkini.co.id, saat ditemui di Toko Agen Gas, Tanjung Redeb, Senin (4/8/2025).
Rahma menyebutkan bahwa gas melon tersebut telah kosong sejak kemarin lusa, “Sedangkan untuk stoknya lagi kami belum tau, biasanya harus nunggu sekitar satu minggu,” imbuhnya.
Hal yang sama juga disamapaikan pedagang gas LPG 3 kg tingkat pengecer yakni Wiwit. Menurut Wiwit, gas LPG 3 kg telah kosong sejak Jumat (29/7/2025) lalu. Dia mengakui, gas melon ini memang kerap kali tidak tersedia setiap akhir bulan.
“Sudah kosong sejak hari Jumat kemarin ya kak, karena memang kan akhir bulan. Kalau untuk stoknya kami belum tau lagi kapan, tapi memang biasanya harus nunggu lama. Kalau gas yang lain ada, yang 12 kg selalu tersedia,” jelasnya.
Menurut Wiwit, gas LPG 3 kg cepat habis karena stok pengiriman yang dibatasi, dan banyaknya peminat karena harganya cukup murah yakni hanya Rp 33.000 – 35.000 per tabung.
Lebih lanjut, ia mengakui bahwa memang ada sedikit kenaikan harga gas LPG 3 kg dalam beberapa hari terakhir, yang mana biasanya hanya Rp 35.000 per tabung, kini harganya mencapai Rp 38.000 per tabung.
Pedagang tingkat pengecer lainnya yakni Cincin juga menyampaikan hal yang sama. Dia mengatakan bahwa gas LPG 3 kg sudah kosong sejak Sabtu (30/7/2025) kemarin. Dia mengatakan kekosongan ini merupakan hal biasa karena akhir bulan.
“Wajar ya kosong, soalnya kan kemarin akhir bulan, nanti sekitar satu minggu akan ada stoknya lagi. Untuk harga kami masih jual di Rp 36.000 per tabung,” ucapnya.
Penjual Tak Naikkan Harga
Sejumlah pedagang makanan kaki lima di Berau, termasuk penjual pentol, bakso, dan gorengan, menyatakan bahwa harga dagangan mereka tidak naik meski pasokan gas LPG 3 kg mulai langka di wilayah Berau.
Pedagang Pentol, Ahmadi menyampaikan bahwa harga pentol yang dijual masih sama belum ada kenaikan, yakni Rp 1.000 per pentol kecil, dan Rp 5.000 per pentol besar isi daging, meski gas melon sedang kosong di sejumlah agen dan warung beberapa akhir ini.
“Harga pentol masih sama ya, tidak ada kenaikan. Soalnya di pangkalan kami itu sudah menyetok gas LPG 3 kg yang banyak sebelum adanya kelangkaan seperti saat ini,” kata dia saat ditemui Berauterkini.co.id, Selasa (5/8/2025).

Pedagang gorengan, Irawan juga tidak menaikan harga jualannya, meski gas LPG 3 kg sedang mengalami kelangkaan. Adapun harga gorengannya masih sebesar Rp 5.000 untuk 4 biji gorengan.
“Belum ada kenaikan, karena kami sudah memperhitungkan besaran keuntungannya, dan besaran modalnya. Kami juga beli gasnya dalam jumlah banyak ya, jadi engga pernah kehabisan gas LPG 3 kg,” jelasnya.
Selaras dengan hal ini, Pelayan Tukang Bakso dan Mie Ayam, Eka juga menyebut bahwa tidak ada kenaikan harga Bakso dan Mie ayam, meski gas LPG 3 kg disebut-sebut kosong di sejumlah agen dan warung.
Adapun bakso seporsinya masih dijual dengan harga Rp 20.000, dan Mie Ayam Bakso Rp 23.000 seporsinya.
“Harga kami engga ada kenaikan, karena kami beli gasnya bukan hanya LPG 3 kg saja, tapi beli yang 12 kg juga, jadi ketika yang gas melon habis, masih ada stok gas yang 12 kg itu, jadi ga berdampak pada kenaikan harga,” imbuhnya.
Diskoperindag Berau Panggil Agen dan Pangkalan
Diskoperindag Berau memanggil agen, pangkalan gas LPG 3 kg buntut kelangkaan hingga harga di atas HET
Permasalahan klasik gas bersubsidi atau gas melon di Kabupaten Berau kembali mencuat. Diskoperindag Berau bergerak cepat memanggil para agen, pangkalan dan Pertamina untuk duduk bersama.
Bertempat di kantor Diskoperindag Berau, Rabu (6/8/2025) pagi, puluhan agen didatangkan dan dimintai keterangan satu persatu, terkait permalasahan yang menjadi penyebab gas melon ini kerap langka di masyarakat.
Dipimpin Kepala Diskoperindag Berau Eva Yunita, dan Kepala Bidang Bina Usaha dan Perdagangan Diskoperindag Berau, Hotlan Silalahi, pertemuan berjalan dengan saling lempar argumen.

“Kami sudah sering menerima keluhan bahkan dalam sehari bisa sampai berkali-kali. Ini yang mau kita clear-kan hari ini,” tegas Eva.
Dari beberapa pengakuan agen dan pangkalan yang hadir, beberapa masalah pun diketahui menjadi biang permasalahan. Mulai dari kuota puluhan ribu gas melon, yang ternyata sudah disetop sejak dua bulan lalu, hingga pembeli gas melon yang tidak seharusnya alias tidak sesuai aturan.
“Saya bahkan pernah menemukan ada pangkalan yang ternyata hanya nama tanpa ada aktivitas. Ini yang justru menjadi pertanyaan,” tegas Kabid Bina Usaha dan Perdagangan Diskoperindag Berau, Hotlan Silalahi.
Masalah lain adalah adanya ASN yang ternyata juga menjadi salah satu pembeli LPG bersubsidi, padahal secara aturan sudah tidak diperbolehkan.
“Kami tidak pernah melarang siapapun untuk menjadi sub penyalur atau pangkalan. Tapi semuanya harus sesuai regulasi. Dan kembali ditegaskan jika yang boleh mengambil dari agen hanya sub penyalur atau pangkalan, untuk langsung disalurkan ke masyarakat, bukan ke pengecer,” tutupnya.
Setelah rapat bersama hari ini, Diskoperindag akan lakukan sidak ke lapangan besok untuk kroscek data riil yang ada. Jika ditemui adanya pelanggaran aturan yang dilakukan oleh pangkalan, maka akan langsung diberlakukan sanksi pemutusan hubungan usaha.
