BERAU TERKINI – Potensi pengembangan kelapa dalam di Kecamatan Maratua dinilai masih sangat besar.

Namun, saat ini, sebagian besar tanaman kelapa yang ada sudah berusia tua, sehingga produktivitasnya menurun.

Camat Maratua, Ariyanto, mengatakan, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan komoditas kelapa di wilayah kepulauan tersebut.

“Potensi kelapa dalam di Maratua sebenarnya sangat besar. Hanya saja banyak tanaman yang sudah tua dan kurang produktif. Peremajaan juga belum berjalan karena ada beberapa kendala,” ujarnya kepada Berauterkini.

Ia menjelaskan, salah satu kendala utama adalah syarat pembentukan kelompok tani sebagai dasar pengajuan bantuan dari pemerintah.

Sementara di Maratua, sebagian besar lahan kelapa dimiliki secara perorangan, sehingga sulit untuk dikelompokkan.

“Di kecamatan lain biasanya ada lahan kelompok tani. Kalau di Maratua ini lahannya milik perorangan. Padahal bantuan dari dinas biasanya harus melalui kelompok tani,” jelasnya.

Selain itu, keterbatasan lahan yang dikelola secara kolektif juga menjadi hambatan dalam program peremajaan kelapa.

Meski begitu, pihak kecamatan sebelumnya telah mengusulkan bantuan bibit kelapa kepada dinas terkait.

Ariyanto mengungkapkan, pada masa awal pembentukan kecamatan pernah ada bantuan sekitar 10 ribu bibit kelapa yang dibagikan ke empat kampung di Maratua.

Namun, bibit tersebut tidak berhasil berkembang karena berbagai faktor.

“Waktu itu bibitnya tumbuh, tapi banyak yang terkena hama ulat artona. Ada juga yang rusak karena monyet, sehingga akhirnya hampir semuanya tidak berhasil,” katanya.

Akibat kondisi tersebut, produksi kelapa di Maratua saat ini sangat terbatas. 

Bahkan, untuk mendapatkan buah kelapa pun cukup sulit karena pohon yang ada sudah tinggi dan tidak produktif.

Meski demikian, Ia menilai kelapa tetap memiliki peluang besar untuk dikembangkan, terutama jika dikaitkan dengan sektor pariwisata di Maratua. (*)