BERAU TERKINI – Akademisi Universitas Mulawarman (Unmul), Khairil Anwar, menyoroti framing terkait dengan viralnya Ananda Emira Moeis di jagat maya.
Framing tersebut justru menenggelamkan substansi yang disampaikan oleh Ananda Moeis yang dia nilai sudah benar.
Sebab, dalam video itu Ananda Moeis mencoba untuk menjelaskan dampak dari ditabraknya pilar jemabatan Mahakam oleh kapal besar tersebut.
“Substansinya hilang, yang disorot malah personalnya,” ujar Khairil, mengutip laporan Presisi.
Khairil mengatakan, bila sejatinya jembatan tersebut merupakan aset daerah yang dibangun murni demi kepentingan masyarakat.
Baik dari aspek sosial, maupun ekonomi di ibukota.
“Padahal narasinya sudah tepat, poin yang disampaikan tepat juga,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa fenomena framing negatif atau potongan video di media sosial adalah konsekuensi digital yang sering dialami politisi.
Namun, hal itu tidak menghapus kebenaran dari pesan yang disampaikan.
“Masyarakat merasakan persoalan yang sama,” ucapnya.

Di satu sisi, dia menyorot secara tajam ihwal peristiwa 8 Maret 2026 lalu.
Lemahnya pengelolaan lalu lintas sungai dan minimnya evaluasi menyeluruh dinilai menjadi penyebab utama peristiwa klasik ini terus berulang tanpa solusi sistematis.
Khairil mengungkapkan keprihatinannya atas padatnya lalu lintas Sungai Mahakam yang tidak dibarengi dengan manajemen risiko yang mumpuni.
Menurutnya, penanganan selama ini hanya menyentuh permukaan.
“Jika terus-menerus dihantam, umur teknisnya pasti terpangkas,” tegasnya.
Khairil menyoroti ketimpangan yang terjadi dalam pemanfaatan Sungai Mahakam sebagai jalur logistik sumber daya alam, khususnya batu bara.
Ia menilai Kalimantan Timur justru berada di posisi yang dirugikan secara ekonomi dan lingkungan.
“Yang ada justru kita menanggung risiko kerusakan infrastruktur, pencemaran, hingga kecelakaan sungai,” tegasnya.
