BERAU TERKINI – Kolaborasi antarpihak berhasil membuahkan Festival Film Pelajar Berau, sebuah ajang kreativitas lewat layar lebar.
Ruang kreatif bagi pelajar Berau kini semakin terbuka melalui Festival Film Pelajar Berau 2025 (FFPB 25).
Festival yang digagas sebagai proyek kolaborasi ini menjadi ajang pertama yang mempertemukan pelajar sekolah untuk mengekspresikan gagasan dan kepedulian sosial melalui medium film.
FFPB 25 merupakan hasil kolaborasi ALS Films, Tugas Akhir Seni Budaya Kelas XII 5, 6, 7, dan 8 SMA Negeri 2 Berau, serta ekstrakurikuler film SMP Negeri 1 Sambaliung.
Kegiatan ini dipimpin dan diarahkan oleh Risna Herjayanti bersama Garry Cantona.
Risna Herjayanti menjelaskan, festival ini lahir dari kegelisahan akan minimnya ruang apresiasi bagi pelajar Berau dalam berkarya di bidang film.
Padahal, setiap tahunnya lomba film pendek FLS3N terus digelar di jenjang SMA atau SMK.
“Festival ini menjadi sarana pembelajaran bersama. Para peserta tidak hanya menayangkan karya, tetapi juga berdialog, saling menginspirasi, serta menumbuhkan kepekaan terhadap isu-isu sosial melalui bahasa sinema,” ujarnya.

FFPB 25 belum mengusung tema besar tertentu. Hal ini sengaja dilakukan untuk memberi kebebasan kepada peserta dalam mengeksplorasi ide dan perspektif masing-masing.
Meski baru pertama kali digelar, harapannya festival ini dapat terus berlanjut dan melibatkan lebih banyak sekolah maupun komunitas kreatif di Berau.
“Saya berkolaborasi bersama Mas Garry yang memang terkenal aktif dlaam memproduksi film pendek dan kerap menjadi juri FLS3N tingkat kabupaten,” tuturnya.
Proses produksi film-film yang ditayangkan tidak berlangsung singkat. Tahapan pra produksi dimulai sejak Agustus 2025 dengan pengenalan film pendek.
Produksi dilakukan pada Oktober hingga Januari, dan tahap editing rampung pada Januari hingga Februari.
Di balik proses tersebut, tim produksi menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan alat seperti lighting dan minimnya tempat penyewaan perlengkapan produksi film di Berau, hingga persoalan kedisiplinan tim dan keterbatasan pendanaan.
“Ini menjadi pembelajaran besar bagi kami. Dengan segala keterbatasan, pelajar tetap mampu menghasilkan karya yang patut diapresiasi,” tambahnya.
Dukungan juga datang dari Platinum Cineplex yang turut memberikan ruang bagi film pelajar Berau untuk diputar.
Keterlibatan pihak bioskop ini menjadi langkah penting dalam mendorong lahirnya ekosistem perfilman lokal.
Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan karya-karya tersebut, tiket dapat dibeli seharga Rp35.000 melalui Nirmala maupun Instagram @ffpb.25. Antusiasme penonton pun cukup tinggi.
Tercatat, pada hari pertama Rabu 11 Februari 2026 tersisa dua tiket, sedangkan hari kedua Kamis 12 Februari 2026 tersisa 12 tiket.
Melalui FFPB 25, penggagas berharap ekosistem perfilman di Berau dapat terus tumbuh. Festival ini menjadi awal terbentuknya ruang kolaborasi yang lebih luas antara pelajar, guru, sineas lokal, dan masyarakat.(*)
