BERAU TERKINI – Kasus penyimpangan seksual sesama jenis menggemparkan publik Kabupaten Berau. Skala masalahnya bukan hanya pada jumlah korban yang mencapai belasan, tetapi juga karena pelakunya adalah individu berprestasi.
Prestasi dan apresiasi yang seharusnya menjadi motivasi untuk menebar kebaikan, justru digunakan pelaku—yang memiliki rekam jejak cemerlang sebagai duta dan pramuka terbaik Kaltim—untuk menyalurkan hasrat seksual menyimpang dalam hubungan sesama lelaki, yang jelas menyalahi norma sosial dan agama.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengaku sangat khawatir dan kecewa dengan situasi ini. Ia merasa terpukul karena figur yang menyandang pemuda prestasi justru menjadi pelaku penyimpangan seksual yang merenggut masa depan cerah generasi penerus bangsa.
“Ini membuat hati kecil kita teriris, kecewa mendengar kabar buruk ini,” kata Gamalis.
Peristiwa ini harus menjadi pelajaran penting bagi semua pihak, mulai dari orang tua, institusi pendidikan, komunitas kawula muda, hingga pemerintah daerah.
Menurut Gamalis, kejadian ini seharusnya bisa dicegah melalui pendampingan intensif selama masa tumbuh kembang anak, dari usia dini hingga dewasa. Orang tua perlu memastikan mereka memahami pengetahuan dan ketertarikan seksual anak secara jernih.
Dalam sehari, anak menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah dan sekolah. Delapan jam bersama orang tua, delapan jam di sekolah, dan sisanya untuk beristirahat. Masa yang sangat panjang ini harus dimanfaatkan untuk membangun komunikasi yang kuat dengan anak, mendengarkan keluhan, dan cerita aktivitas sehari-hari.
“Banyak waktunya di sekolah dan di rumah. Ini harus didampingi,” ujar Gamalis.
Pemkab Berau menegaskan tidak pernah menyepelekan program pembinaan murid di sekolah. Mulai dari kualitas guru hingga fasilitas sekolah diupayakan untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan aman.
Melalui Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA), pemerintah berupaya memastikan hak anak terpenuhi, sejalan dengan predikat Berau sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA).
“Program kami tidak kurang-kurang. Ini sudah melibatkan banyak instansi untuk kebahagiaan anak di lingkungan sekolah,” sebutnya.
Kecermatan penyelenggara pendidikan sangat penting dalam memantau tumbuh kembang murid. Gamalis menekankan, ketegasan perlu diberikan segera, baik oleh guru maupun orang tua, ketika murid mulai menunjukkan perilaku tak sewajarnya.
Jika ada indikasi kecenderungan untuk menyukai sesama jenis, orang tua maupun guru wajib melakukan pendekatan preventif. Caranya adalah dengan membuka ruang aman agar anak mau bercerita terkait pengalaman yang dialaminya, tanpa dihakimi.
“Harus dipantau, tegas dalam bersikap kalau sudah ada indikasi yang aneh-aneh,” ucapnya.
Faktor lain yang harus diwaspadai adalah kecanduan terhadap gawai. Pembatasan penggunaan gawai penting karena dapat menumbuhkan rasa penasaran anak terhadap konten yang tidak seharusnya dikonsumsi. Permainan, video, dan laman media sosial kerap menampilkan perkataan atau tindakan yang tidak sesuai norma.
Gaya bergaul yang menyalahi kodrat, seperti laki-laki bergaya perempuan dan sebaliknya, akan dianggap normal jika anak tidak didampingi. Idola dari dunia digital pun tak jarang menjadi pengantar bagi anak untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma.
“Jangan tenangkan anak pakai gawai, itu bisa berdampak panjang ke cara bergaul anak,” tuturnya.
Lingkungan sosial juga dianggap sebagai faktor penting. Berau, dengan populasi yang datang dari berbagai suku dan bangsa, dapat membawa pengaruh besar. Pengetahuan dan pengalaman baru dari lingkungan harus disaring dan dijawab dengan benar oleh orang tua karena anak cenderung menjadi peniru yang baik.
“Banyak pendatang yang hadir di Berau ini. Orang dari kalangan manapun hidup di Berau. Ini juga yang harus membuat kita semakin mawas diri,” sebutnya.
Evaluasi Pemerintah
Dalam penanganannya, Gamalis menyarankan agar orang tua, guru, dan pemerintah tidak memakai pola mendikte anak. Memberikan ruang setara, duduk bersama, dan berdiskusi justru dianggap lebih efektif untuk mendapatkan hati sang anak.
“Duduk lebih setara, diskusi. Ajak bermain, dia akan lebih senang dan mau bercerita ke kita,” ucapnya.
Penting juga bagi semua pihak untuk memastikan setiap keluhan tidak menyudutkan anak agar tidak berdampak secara psikologis dan membuatnya bersikap tertutup.
Terakhir, pemerintah juga melakukan evaluasi diri, terutama Dinas Pendidikan dan DPPKBPPPA sebagai motor kebijakan pengawal tumbuh kembang anak. Gamalis memastikan pemerintah berbenah diri pasca kejadian ini.
“Semua pihak harus saling evaluasi, ini mencari akar masalah agar anak-anak tak kehilangan masa depan yang gemilang,” tegas Gamalis. (*/Adv)
