BERAU TERKINI – Isu terkait LGBT kembali hangat diperbincangkan di masyarakat. Menanggapi hal ini, aktivis perempuan, Jannah, mengajak masyarakat Berau untuk menyikapi persoalan tersebut dengan sudut pandang kemanusiaan dan menghindari larut dalam stigma negatif.

Jannah menegaskan, pada dasarnya, kelompok LGBT memperjuangkan hak-hak dasar yang juga dimiliki setiap manusia.

“Yang mereka perjuangkan itu bukan hal yang aneh atau berlebihan. Mereka memperjuangkan hak hidup, hak mendapatkan perlindungan hukum dan rasa aman, hak memperoleh pendidikan, pekerjaan, penghidupan yang layak, dan hak dasar lainnya,” kata Jannah.

Menurutnya, fokus perjuangan komunitas LGBT bersifat menyeluruh dan tidak hanya terbatas pada satu aspek. 

“Perjuangan mereka menyeluruh. Mulai dari pengakuan hukum, perlindungan dari diskriminasi, sampai penerimaan sosial. Semua itu saling berkaitan, jadi tidak bisa dipisahkan,” jelasnya.

Jannah juga menyoroti akar kuatnya stigma negatif di masyarakat. Ia menyebut stigma berakar dari kurangnya ruang dialog dan pemahaman yang benar.

“Stigma itu dibangun dari ketidaktahuan, bias budaya, dan narasi-narasi yang menakutkan atau tidak berbasis fakta. Ketika masyarakat tidak punya ruang untuk memahami, stigma akan terus diwariskan,” ujarnya.

Ia menambahkan, pola diskriminasi ini tidak hanya berdampak pada kelompok LGBT, tetapi juga dapat meluas terhadap kelompok rentan lainnya.

“Tentu saja dampaknya bisa dirasakan perempuan, laki-laki, dan kelompok rentan lainnya. Ketika satu kelompok distigmatisasi, itu bisa menormalisasi kekerasan kepada siapa pun yang dianggap berbeda atau tidak sesuai standar sosial,” tegasnya.

Untuk masyarakat Berau, Jannah mengimbau agar menyikapi isu LGBT dengan cara yang lebih dewasa dan proporsional. 

Ia menilai penting untuk membedakan antara orientasi seksual seseorang dengan tindakan individu yang melanggar hukum.

“Pertama-tama, pahami bahwa LGBT bukan penyakit dan bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Kalau ada tindakan melanggar hukum, itu adalah perbuatan individu, bukan alasan untuk menggeneralisasi seluruh kelompok,” katanya.

Ia mengajak masyarakat untuk menjauhi stigma dan kebencian, serta memilih pendekatan berbasis kemanusiaan dan informasi yang benar.

“Lebih baik kita merespons dengan hati-hati, memahami konteksnya, dan mengedepankan kemanusiaan. Masyarakat juga perlu mencari informasi yang benar, bukan hanya mengikuti ketakutan bersama,” ujarnya. (*)