BERAU TERKINI – Bunga langka Rafflesia pricei yang tumbuh subur di Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) menyimpan cerita yang luar biasa, mulai dari sejarahnya sebagai pakan ternak hingga kini menjadi ikon wisata unggulan yang dilindungi.
Berbeda dengan spesies Rafflesia lain yang umumnya sulit ditemukan dan butuh keberuntungan tinggi, jenis Pricei di Krayan Barat, Kabupaten Nunukan, justru “ramah” pengunjung. Habitatnya berada tidak jauh dari pemukiman penduduk, khususnya di Desa Pa’ Kidang.
Wisatawan yang menjajal jalur tracking menuju puncak wisata Buduk Udan di ketinggian 1.400 mdpl bisa menikmati keindahan bunga ini saat perjalanan pulang, karena rutenya melintasi habitat asli sang puspa langka.
Dulu Pakan Anjing, Kini Simbol Budaya
Kepala SPTN Wilayah I Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Hery Gunawan, mengungkap fakta sejarah yang mengejutkan. Sebelum masyarakat adat memahami status kelangkaan bunga ini, Rafflesia pricei ternyata memiliki fungsi yang sangat pragmatis dalam kehidupan sehari-hari mereka di hutan.
“Menurut cerita masyarakat, sebelum mengetahui bahwa Rafflesia merupakan tumbuhan langka dan dilindungi, masyarakat memanfaatkan bunga Rafflesia untuk pakan anjing ketika di dalam hutan,” ungkap Hery Gunawan.
Namun, pengetahuan itu kini telah mengubah perilaku warga 180 derajat. Masyarakat Krayan sekarang menjadi garda terdepan pelestarian. Bahkan, bunga ini telah diadopsi ke dalam seni budaya mereka sebagai simbol kebanggaan.
“Upaya masyarakat dalam melestarikan Rafflesia pricei yaitu dengan adanya Tim Monitoring Rafflesia di Resor Krayan SPTN Wilayah I Long Bawan. Serta masyarakat memakai replika atau gambar Rafflesia sebagai properti menari untuk tarian Dayak Lundayeh di Krayan. Secara tidak langsung, penggunaan replika Rafflesia merupakan simbol bagian dari upaya pelestarian budaya dan alam,” tambah Hery.
Hery juga menjelaskan sisi biologis bunga ini. Keberadaannya menjadi indikator penting kesehatan hutan Kalimantan.
“Dengan adanya Rafflesia pricei menandakan bahwa fungsi ekologis hutan TNKM masih terjaga dengan baik. Hal tersebut dikarenakan Rafflesia merupakan tumbuhan yang sensitif terhadap gangguan,” jelasnya.
Terkait waktu mekar, Hery menekankan kompleksitas faktor alam yang mempengaruhinya. “Tidak ada waktu tertentu bunga Rafflesia pricei untuk mekar. Beberapa faktor yang mempengaruhi waktu mekar yaitu kondisi inang (Tetrastigma), cuaca dan gangguan, serta siklus hidup dari proses kopula, knop, perigon, dan antesis atau mekar,” paparnya.

Puncak Mekar Agustus dan Dukungan Ekowisata
Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, Seno Pramudito, memberikan data pendukung terkait siklus mekar bunga ini. Meski sulit diprediksi, data lapangan menunjukkan tren waktu tertentu.
“Mekarnya Rafflesia pricei tidak dapat diprediksi seperti tumbuhan pada umumnya. Berdasarkan hasil data monitoring, Rafflesia pricei paling sering berbunga pada bulan Agustus. Namun masih perlu monitoring berkala untuk memastikan seberapa sering Rafflesia pricei mekar,” jelas Seno Pramudito.
Seno memaparkan bahwa bunga ini tidak tumbuh di sembarang tempat. Pihaknya telah memetakan lokasi-lokasi spesifik persebarannya.
“Tidak semua wilayah di Taman Nasional Kayan Mentarang dapat ditemukan Rafflesia. Sampai saat ini terdapat beberapa lokasi yang ditemui, yaitu di SPTN Wilayah I Long Bawan (Desa Long Api dan Desa Tang Paye), SPTN Wilayah II Long Alango (Rian Tubu) dan di SPTN Wilayah III Long Ampung (Paliran). Namun, lokasi yang sering dilakukan monitoring yaitu di SPTN Wilayah I Long Bawan,” rincinya.
Melihat potensi besar ini, Balai TNKM tidak tinggal diam. Mereka memberikan dukungan penuh untuk mengembangkan Desa Pa’ Kidang sebagai destinasi ekowisata berbasis konservasi melalui kelompok wisata ‘Pa’ Kidang Makmur’.
“Balai Taman Nasional Kayan Mentarang sudah melakukan kegiatan pelatihan kepemanduan kepada masyarakat berupa kegiatan peningkatan kapasitas. Selain itu, kami juga sudah memberikan bantuan sarana prasarana berupa shelter dan juga papan-papan informasi dan interpretasi,” kata Seno.
Dukungan teknis juga diberikan agar warga bisa mandiri memprediksi waktu mekar bunga untuk wisatawan.
“Balai Taman Nasional Kayan Mentarang juga sudah membentuk kelompok khusus monitoring dari Rafflesia pricei, sehingga masyarakat di sana juga bisa menentukan waktunya Rafflesia tersebut berkembang, sehingga pengunjung di sana bisa mendapatkan berkembangnya Rafflesia tersebut,” tambahnya.
Seno berharap sinergi ini membawa dampak ekonomi nyata bagi warga lokal.
“Kami berharap bahwa lokasi destinasi wisata di Desa Pa’ Kidang khususnya di Buduk Udan ini dapat dikembangkan dan juga dapat dilestarikan sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Kami mengharapkan para mitra dan Pemda juga mendukung kegiatan pengembangan destinasi wisata di Desa Pa’ Kidang ini,” tutup Seno. (*)
