BERAU TERKINI – Kenaikan angka prevalensi penyalahgunaan narkotika di Kalimantan Timur (Kaltim) bukan sekadar deretan angka statistik di atas kertas. Di balik lonjakan kasus pada tahun 2025, tersimpan problem sosial yang pelik dan sangat personal.
Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kaltim menyingkap fakta bahwa kerentanan warga terjerumus ke lembah hitam narkoba tidak melulu soal faktor ekonomi. Kerapuhan mental menjadi pintu masuk baru yang kian mengkhawatirkan.
Kepala BNNP Kaltim, Brigjen Pol. Rudi Hartono, mengungkapkan bahwa kelompok usia produktif hingga 64 tahun merupakan segmen paling rentan. Pemicunya sering kali bermula dari ketidakmampuan mengelola gejolak emosi.
“Faktor pemicunya beragam, mulai dari kegagalan bisnis, masalah keluarga atau broken home, hingga masalah asmara atau patah hati,” ujar Rudi dalam paparan Kaltim Bebas Narkotika Tahun 2025, Selasa (30/12/2025) kemarin.
Patah hati, yang kerap dianggap persoalan sepele, ternyata menjadi titik lemah fatal. Individu yang terguncang secara emosional sering kali mencari pelarian instan untuk melupakan masalah. Narkotika, sayangnya, dianggap sebagai jalan pintas.
Kondisi psikologis ini berkontribusi pada kenaikan prevalensi pengguna narkoba di Kaltim yang kini menyentuh angka 2,11 persen. Angka ini naik signifikan jika disandingkan dengan data empat tahun sebelumnya.
Rudi menjelaskan bahwa lonjakan data ini juga mengindikasikan transparansi pengungkapan kasus yang semakin baik. Pemetaan jaringan dan lokasi peredaran kini jauh lebih terbuka.
“Pada tahun 2021, angka prevalensi kita berada di 1,7 persen. Namun, di tahun 2025 ini melonjak menjadi 2,11 persen. Kenaikan ini sejalan dengan hasil penangkapan yang meningkat,” tegasnya.
Merespons tren ini, BNNP Kaltim mengubah strategi. Pendekatan kaku mulai ditinggalkan. Jika sebelumnya menggunakan pendekatan lima pilar, periode 2024–2025 ditandai dengan strategi “ikonik dan tematik”.
Salah satu wujud konkretnya adalah pembentukan 7 Desa Bersinar (Bersih Narkoba). Desa-desa ini diproyeksikan menjadi garda terdepan untuk memperkuat ketahanan keluarga agar warga tidak mudah rapuh saat diterpa masalah hidup.
“Program ini diharapkan menjadi benteng pertahanan pertama dalam mengurai pengaruh bandar di tingkat desa,” pungkasnya. (*)
