BERAU TERKINI — Tingginya minat masyarakat terhadap emas perhiasan menjelang Hari Raya Idulfitri lalu berdampak signifikan pada angka inflasi di Kabupaten Berau.
Badan Pusat Statistik (BPS) Berau mencatat, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi motor utama inflasi tahun ke tahun (year-on-year) di Bumi Batiwakkal.
Kepala BPS Berau, Yudi Wahyudin, menjelaskan, selain emas perhiasan, terdapat komoditas lain dalam kelompok ini yang turut memberikan andil inflasi, meski dalam skala yang relatif kecil.
Beberapa di antaranya adalah penyesuaian tarif potong rambut serta kenaikan harga pasta gigi di pasaran.
Fenomena ini dipicu oleh perpaduan antara kondisi pasar global dan perilaku konsumen lokal.
Lonjakan harga emas dunia yang terjadi secara konsisten dalam satu tahun terakhir secara otomatis mengerek harga jual di tingkat pengecer perhiasan lokal.
“Peningkatan harga emas dunia dalam satu tahun terakhir memang tinggi sehingga berimbas pada harga emas perhiasan di kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya,” jelas Yudi, Senin (6/4/2026).
Yudi menambahkan, kecenderungan masyarakat untuk membeli emas perhiasan sebagai bagian dari persiapan hari raya menjadi katalisator kuat kenaikan harga tersebut.
Kombinasi antara keterbatasan stok akibat harga dunia dan lonjakan permintaan domestik menciptakan tekanan inflasi yang cukup terasa.
“Meningkatnya harga emas global dan kecenderungan meningkatnya permintaan terhadap komoditas emas perhiasan menjelang lebaran menjadi penyebab meningkatnya harga tersebut,” tuturnya.
Menariknya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang biasanya menjadi penyumbang inflasi terbesar karena intensitas konsumsi yang tinggi, justru berada di bawah kelompok perawatan pribadi dalam perbandingan tahunan.
Meski tetap mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya, angka pertumbuhannya tidak sefantastis komoditas emas.
Berbeda dengan potret inflasi tahunan, jika melihat data dari bulan ke bulan (month-to-month), kelompok transportasi justru memegang kendali.
Lonjakan harga tiket angkutan udara selama musim mudik dan balik menjadi penyumbang inflasi paling dominan, disusul oleh fluktuasi harga bahan pangan pokok.
Komoditas seperti cabai rawit, bayam, dan ikan kembung tercatat mengalami kenaikan harga yang cukup tajam selama periode Ramadan dan Lebaran.
Hal ini menunjukkan adanya pergeseran beban inflasi antara kebutuhan jangka panjang seperti investasi emas dan kebutuhan musiman yang bersifat mendesak.
“Jadi pengaruh Ramadan dan lebaran itu dapat dilihat pada inflasi month to month, di mana komoditas angkutan udara sebagai penyumbang terbesar inflasi pada kelompok transportasi dan komoditas cabai rawit, bayam dan ikan kembung penyumbang terbesar inflasi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau,” pungkas Yudi. (*)

