BERAU TERKINI – Potensi kemarau panjang akibat fenomena El Nino ekstrem yang diprediksi mulai terjadi April 2026 menjadi alarm serius bagi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Berau.

Ancaman meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat berbagai langkah antisipasi mulai diperkuat sejak dini.

Peringatan terkait fenomena yang dijuluki “El Nino Godzilla” sebelumnya disampaikan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Dampaknya diperkirakan tidak singkat, bahkan bisa berlangsung hingga Oktober mendatang.

Tim Pemadam Kebakaran BPBD Berau saat melakukan pemadaman Karhutla.
Tim Pemadam Kebakaran BPBD Berau saat melakukan pemadaman Karhutla.

Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Disdamkarmat Berau, Nofian Hidayat, mengatakan, pihaknya kini fokus membangun kesiapan menghadapi skenario terburuk.

Ia menilai, meskipun El Nino merupakan siklus alam, intensitasnya kali ini tidak boleh diremehkan.

“Durasi panasnya bisa panjang, bahkan berbulan-bulan. Ini yang harus kita antisipasi sejak awal,” ungkapnya, Selasa (31/3/2026).

Menurutnya, dampak El Nino tidak hanya berpotensi memicu karhutla, tetapi juga dapat merembet ke berbagai sektor lain.

Mulai dari meningkatnya risiko kebakaran di kawasan permukiman, kekeringan lahan pertanian, hingga terganggunya aktivitas perikanan masyarakat.

Untuk itu, Disdamkarmat Berau mulai melakukan penguatan dari sisi internal.

Penataan ulang personel dilakukan yang diiringi latihan rutin serta pembentukan tim siaga guna memastikan respons cepat saat terjadi kebakaran.

“Mitigasi tidak hanya soal penanganan, tapi juga pencegahan. Kami juga intensifkan edukasi ke masyarakat,” jelasnya.

Saat ini, sebanyak 88 personel telah disebar di hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Berau.

Meski begitu, jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan ideal yang diperkirakan mencapai 250 personel.

“Keterbatasan tetap ada, tapi kami optimalkan dengan dukungan relawan dan Masyarakat Peduli Api,” ujarnya.

Dari sisi peralatan, armada pemadam dinilai masih cukup untuk menunjang operasional.

Setiap kecamatan telah dilengkapi mobil tangki, sementara di pos induk tersedia sekitar 18 unit kendaraan pendukung.

“Ke depan tentu perlu penambahan dan peremajaan agar kesiapan tetap terjaga,” tambahnya.

Selain itu, pihaknya juga mengusulkan tambahan anggaran, termasuk dari dana bagi hasil sektor kehutanan, untuk memperkuat upaya penanggulangan karhutla.

Tak hanya mengandalkan petugas, peran masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam mencegah kebakaran.

Nofian juga mengingatkan agar warga tidak membuka lahan dengan cara membakar serta lebih waspada terhadap aktivitas yang berpotensi memicu api.

“Kami juga sarankan masyarakat menyiapkan cadangan air sebagai langkah awal jika terjadi kebakaran di lingkungan sekitar,” pungkasnya. (*)