TANJUNG REDEB – Ekspor kerapu hidup dari Kabupaten Berau terus menunjukkan potensi besar. Namun, menghadapi kendala serius pada tahun 2025.
Berdasarkan data Dinas Perikanan Berau, hingga April 2025, total ekspor kerapu hidup baru mencapai 30.000 kilogram. Padahal, tahun sebelumnya, jumlah ekspor mencapai 133.000 kilogram. Ini artinya menunjukkan penurunan drastis.
Sekretaris Dinas Perikanan Berau, Yunda Zuliarsih, menjelaskan, komoditas utama yang diekspor meliputi kerapu jenis Sunu, Lumpur, Cantang, Tiger, dan Macam.
Sebagian besar ekspor biasanya dilakukan melalui jalur laut ke Hong Kong menggunakan kapal berkapasitas besar. Namun, sejak awal tahun ini, pengiriman hanya bisa dilakukan lewat udara yang menyebabkan sejumlah hambatan serius.
“Biasanya kami kirim pakai kapal, tapi sejak awal tahun ini tidak bisa. Padahal kapal dari Hong Kong sudah standby di Batu Putih sejak 6 Mei, dan sampai sekarang belum bisa kembali,” kata Yunda kepada Berauterkini, Rabu (9/7/2025).
Akibat kendala ini, kata Yunda, nelayan pun merugi. Mereka mengeluhkan harga jual ikan hidup yang turun drastis. Harga yang sebelumnya bisa mencapai Rp250 ribu per kilogram, kini hanya dihargai sekitar Rp150 ribu.
Penurunan ini terjadi karena pengiriman via pesawat membuat biaya operasional melonjak. Sementara volume pengiriman menjadi sangat terbatas.
“Kalau pakai pesawat, satu koli isinya 25 kg, tapi airnya saja sudah 20 kg. Jadi cuma 5 kg ikannya. Ini beda dengan kapal yang bisa angkut banyak tanpa pembatasan volume air,” ungkapnya.
Tak hanya soal harga, keterbatasan ekspor juga menyebabkan kerugian besar di lapangan. Sejumlah nelayan melaporkan kerugian akibat kematian ikan yang gagal dikirim.
“Kami menerima laporan dari nelayan bahwa sekitar 8 ton ikan mati karena tidak bisa diekspor lewat kapal,” tambahnya.
Meskipun pengawasan terhadap proses ekspor tetap dilakukan secara ketat oleh pihak pengawas perikanan, bea cukai, dan imigrasi, namun kendala teknis pengiriman ini dinilai menjadi persoalan yang perlu segera ditangani agar sektor ekspor kerapu hidup yang menjadi andalan daerah tidak semakin terpuruk.
“Tapi memang kendalanya ini dari mereka. Infonya ada perang dagang, sehingga kapal Hong Kong ini tidak bisa kembali,” tutupnya. (*)
