BERAU TERKINI – Kabupaten Berau kembali mencatatkan capaian positif di sektor perkebunan.
Pada awal 2026, sebanyak 15 ton kakao asal Berau berhasil diekspor ke Prancis melalui kerja sama dengan perusahaan luar negeri.
Kepala Dinas Perkebunan Berau, Lita Handini, menjelaskan, ekspor tersebut difasilitasi oleh PT KAS yang selama ini menjadi salah satu penampung kakao di Berau, selain Berau Kokoa.
Jika Berau Kokoa lebih banyak menyasar pasar dalam negeri, PT KAS telah menjalin kontrak ekspor dengan sejumlah mitra internasional.
“Ekspor ke Prancis ini merupakan kerja sama baru dengan perusahaan Farona. Prosesnya tidak instan, mereka melakukan penjajakan hingga dua tahun, termasuk melihat langsung kondisi kebijakan daerah, sistem budidaya petani, hingga komitmen terhadap isu lingkungan seperti pengurangan deforestasi,” kata Lita kepada Berau Terkini, Senin (30/3/2026).

Menurutnya, sebelum menyepakati kontrak, pihak pembeli dari luar negeri melakukan serangkaian kunjungan dan wawancara mendalam, baik dengan pelaku usaha maupun pemerintah daerah.
Hal ini menjadi bagian penting karena pasar internasional tidak hanya mempertimbangkan kualitas kakao, tetapi juga aspek keberlanjutan.
“Setelah mereka yakin, baru kontrak disepakati dan awal tahun ini dilakukan ekspor perdana sebanyak 15 ton. Harapannya tentu bisa berlanjut,” tambahnya.
Namun, ia mengakui, keterbatasan produksi masih menjadi kendala utama dalam memenuhi permintaan pasar global.
Saat ini, produksi kakao Berau berkisar antara 500-700 ton per tahun. Tergantung kondisi cuaca dan lingkungan.
“Kalau kondisi normal, produksi bisa mencapai 700 ton per tahun. Tapi saat terjadi banjir atau kekeringan seperti tahun 2024, produksi bisa turun hingga 300–400 ton,” ujarnya.
Di sisi lain, sebagian besar produksi kakao Berau juga telah terikat kontrak dengan pasar domestik, sehingga ruang untuk ekspor masih terbatas.
Untuk meningkatkan nilai tambah, Dinas Perkebunan Berau mendorong hilirisasi produk kakao.
Salah satunya melalui pengembangan produk cokelat olahan premium oleh PT KAS yang rencananya akan segera diluncurkan ke pasar.
“Selama ini kita masih dominan menjual biji kakao kering. Ke depan, kita dorong produk olahan dengan kualitas premium agar bisa bersaing, tidak hanya di dalam negeri tapi juga luar negeri,” jelasnya.
Produk cokelat tersebut akan hadir dengan konsep single origin yang menonjolkan cita rasa khas dari berbagai wilayah di Berau, seperti Kampung Suaran, Long Lanuk, hingga Gunung Tabur.
“Menariknya, walaupun bibitnya sama, setiap daerah punya cita rasa berbeda. Ada yang cenderung nutty, ada yang sedikit salty. Ini yang menjadi keunggulan kita,” ungkapnya.
Meski peluang pasar terbuka luas, fluktuasi harga kakao dunia tetap menjadi tantangan bagi petani.
Dalam dua tahun terakhir, harga kakao sempat mencapai Rp140 ribu per kilogram untuk biji kering. Namun, kini turun menjadi sekitar Rp70 ribu per kg.
“Ini karena harga ditentukan pasar global. Saat produksi dunia meningkat, harga otomatis turun. Kondisi ini juga berdampak pada semangat petani,” katanya.
Sebagai solusi, pihaknya mendorong petani untuk tidak hanya bergantung pada satu komoditas.
Namun, menerapkan sistem tumpang sari dengan tanaman lain seperti kelapa, kopi, atau tanaman pangan.
“Kita harapkan petani lebih adaptif. Jangan hanya mengandalkan kakao, tapi kombinasikan dengan komoditas lain agar tetap punya sumber pendapatan saat harga turun,” tegasnya.
Dinas Perkebunan Berau juga terus mendorong kemitraan antara petani dan pembeli agar tercipta hubungan yang saling menguntungkan dan berkelanjutan.
“Harapannya ke depan ada kerja sama yang jelas antara petani dan pengumpul, sehingga harga lebih stabil dan kedua belah pihak sama-sama diuntungkan,” pungkasnya. (*)

