BERAU TERKINI – Perlambatan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Berau pada 2025 menjadi sorotan pihak legislatif.
Di tengah sejumlah indikator makro yang menunjukkan perbaikan, kondisi ini dinilai perlu segera direspons dengan langkah strategis.
Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto, menegaskan, pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) pemerintah daerah, khususnya pada sektor-sektor yang mengalami perlambatan.
“Kami akan mencermati secara detail seluruh capaian dan kekurangan, khususnya terkait perlambatan ekonomi yang terjadi,” ujarnya.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam LKPJ, pertumbuhan ekonomi Berau pada 2025 tercatat hanya 2,48 persen, turun drastis dibandingkan 2024 yang mencapai 7,28 persen.
Angka ini menjadikan Berau sebagai salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi terendah di Kalimantan Timur.
Padahal, sejumlah indikator lain menunjukkan tren positif. Jumlah penduduk meningkat dari 299.055 jiwa menjadi 308.020 jiwa.
Tingkat kemiskinan juga berhasil ditekan dari 5,08 persen menjadi 4,44 persen.
Selain itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Berau naik dari 77,17 menjadi 77,72, yang menempatkan daerah ini di peringkat keempat tertinggi di Kaltim.
Meski demikian, Dedy menilai perlambatan ekonomi tidak bisa diabaikan.
Ia menyoroti masih tingginya ketergantungan terhadap sektor pertambangan dan penggalian yang mendominasi struktur ekonomi daerah.
“Perlu ada strategi yang lebih kuat agar ketergantungan terhadap sektor pertambangan bisa dikurangi,” tegasnya.
Diketahui, sektor pertambangan dan penggalian menyumbang 48,11 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Berau.
Namun, sektor tersebut justru mengalami kontraksi sebesar 0,45 persen pada 2025.
Sementara itu, nilai PDRB atas dasar harga berlaku tetap mengalami kenaikan dari Rp50,81 triliun pada 2024 menjadi Rp51,30 triliun pada 2025.
Namun, PDRB per kapita sedikit menurun dari Rp194,08 juta menjadi Rp193,39 juta.
Menurut Dedy, kondisi ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah untuk mulai mengoptimalkan sektor-sektor nonpertambangan, termasuk pariwisata, pertanian, dan ekonomi kreatif, sebagai sumber pertumbuhan baru.
“Langkah konkret harus segera disiapkan agar pertumbuhan ekonomi ke depan lebih stabil dan tidak terlalu bergantung pada satu sektor saja,” pungkasnya. (*/Adv)

