BERAU TERKINI – Pemerintah Kabupaten Berau memutuskan untuk menerapkan beban sewa yang relatif murah bagi para pedagang yang memanfaatkan aset di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Dermaga Tanjung Batu.
Langkah ini diambil sebagai upaya stimulan untuk menghidupkan aktivitas ekonomi di gerbang wisata Pulau Derawan tersebut.
Kawasan ini memiliki dua blok bangunan utama yang diperuntukkan bagi 33 unit kios, yang terbagi dalam blok khusus pedagang suvenir dan blok khusus kuliner.
Kepala Bidang Bina Usaha Jasa Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disbudpar Berau, Nurjatiah, menjelaskan, penentuan tarif ini merujuk pada perbandingan tarif sewa kios 4×6 di pusat kota.
Untuk kios di Dermaga Tanjung Batu, pemerintah membanderol harga sewa senilai Rp300 ribu per bulan bagi pedagang kuliner dan Rp150 ribu per bulan untuk pedagang suvenir.
Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan kios 4×6 di Jalan AKB Sanipah I, Tanjung Redeb, yang disewakan Rp400-600 ribu per bulan.
“Karena masih baru, jadi kami pakai harga separuh dari biaya sewa kios di Tanjung Redeb,” kata Nurjatiah saat dikonfirmasi pada Selasa (3/2/2026).
Nurjatiah menyebutkan, harga sewa tersebut tidak bersifat tetap dan dapat berubah sewaktu-waktu.
Kenaikan tarif ke depan akan merujuk pada perkembangan kawasan serta melihat potensi keramaian wisatawan setiap harinya.
Dasar hukum penerapan ini mengacu pada Perda Nomor 7 Tahun 2025 tentang Pajak dan Retribusi Daerah yang resmi berlaku tahun ini.
“Yang penting itu aturannya dilaksanakan dulu, nanti ke depan akan dievaluasi,” kata Nurjatiah.
Meski sempat mendapatkan protes dari beberapa pedagang yang menganggap harga tersebut masih mahal, aspirasi tersebut belum bisa diakomodir.
Pemerintah menegaskan pentingnya mendapatkan data evaluasi yang objektif selama dua tahun ke depan, yang mencakup data kunjungan serta nilai pendapatan rata-rata pedagang dalam sebulan.
“Dijalankan dulu, nanti kita evaluasi per tiga bulan sampai enam bulan,” ucapnya.
Salah satu alasan tarif tidak bisa disamakan dengan pusat kota adalah adanya dua pintu masuk utama menuju Pulau Derawan.
Saat ini, selain melalui Dermaga Tanjung Batu, wisatawan banyak yang memilih berangkat lewat Dermaga Sanggam di Tanjung Redeb karena aksesnya yang berada persis di pusat kota.
Kondisi ini membuat tingkat kunjungan di Tanjung Batu cenderung hanya melonjak saat masa libur panjang atau high season.
“Logikanya begitu, jadi tarif tidak bisa lebih tinggi. Meski ini dilihat tidak setara dengan nilai untuk pembangunan aset itu, kami kedepankan prinsip humanisnya,” tegas Nurjatiah.
Nurjatiah berpesan agar seluruh pedagang dapat memanfaatkan fasilitas tersebut secara maksimal.
Pemerintah berharap roda ekonomi di kawasan dermaga dapat berputar konsisten demi kesejahteraan masyarakat Tanjung Batu.
“Sayang kalau sudah disewa, terus enggak ditempati,” pungkasnya. (*)
