BERAU TERKINI – Keistimewaan Berau terletak pada sejarah Kesultanan Gunung Tabur dan Keraton Sambaliung, hal itu diharapkan mampu meningkatkan potensi wisata di Berau.
Wacana pengkajian kembali status keistimewaan Berau dinilai tidak hanya berkaitan dengan aspek pemerintahan, tetapi juga berpotensi memperkuat sektor ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis budaya di Berau.
Ketua Komisi II DPRD Berau, Rudi P Mangunsong menilai identitas sejarah Berau sebagai daerah yang pernah menyandang status istimewa dapat menjadi nilai jual dalam pengembangan wisata budaya.
Menurutnya, keberadaan dua kesultanan yang masih aktif hingga kini menjadi aset penting dalam membangun citra daerah.
Ia menyebut unsur keistimewaan tersebut masih hidup melalui peran Kesultanan Gunung Tabur dan Keraton Sambaliung yang terus bermitra dengan pemerintah daerah dalam berbagai agenda budaya, termasuk kegiatan berskala nasional.

Di tengah tantangan fiskal akibat pemangkasan anggaran, Rudi P Mangunsong memandang penguatan sektor pariwisata budaya bisa menjadi salah satu strategi mendorong ekonomi daerah.
“Kita optimalisasi potensi sejarah dan kesultanan karena mampu menarik kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan pelaku usaha lokal kita,” tuturnya.
Sementara itu, Sekda Berau Muhammad Said, menegaskan, keberadaan kesultanan saat ini diakui dalam konteks kebudayaan, bukan sebagai format pemerintahan.
Ia menjelaskan, secara nasional kekhususan pemerintahan saat ini hanya dimiliki Yogyakarta dan Jakarta.

Meski demikian, pengakuan budaya tersebut tetap memiliki nilai strategis dalam pengembangan pariwisata, di mana daerah dengan kesultanan, termasuk di Kalimantan Timur, diakui sebagai bagian dari warisan budaya.
Menurutnya, Pemkab Berau terus memberi perhatian pada pelestarian aset budaya sebagai bagian dari penguatan destinasi wisata.
Selain itu, pemerintah daerah merencanakan rehabilitasi Keraton Sambaliung dan Museum Batiwakkal langkah memperkuat infrastruktur wisata sejarah.
Upaya tersebut diharapkan mampu menjadikan wisata budaya sebagai salah satu pilar ekonomi daerah, dengan memanfaatkan kekayaan sejarah kesultanan sebagai daya tarik utama yang berkelanjutan.
“Ada dukungan anggaran tahunan untuk kegiatan kesultanan melalui dinas pariwisata, termasuk hibah kendaraan operasional untuk mereka,” ujarnya.(*)
