BERAU TERKINI – Upaya percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Berau kembali menjadi sorotan.
DPRD Berau menilai, langkah yang dilakukan pemerintah daerah selama ini belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan.
Sehingga, dibutuhkan strategi yang lebih adaptif, inovatif, dan berbasis kondisi riil masyarakat.
Anggota Komisi I DPRD Berau, Sri Yulianawati Ningsih, menegaskan, percepatan penanganan stunting tidak bisa lagi dilakukan dengan pendekatan yang bersifat umum dan seragam.
Menurutnya, setiap wilayah di Berau memiliki karakteristik persoalan berbeda yang membutuhkan strategi spesifik berbasis data.
“Stunting bukan sekadar persoalan gizi. Ini juga berkaitan dengan pola asuh, sanitasi lingkungan, hingga edukasi keluarga tentang pentingnya gizi seimbang sejak dini,” ujarnya, Minggu (1/3/2026).
Selama ini, program penanganan masih perlu diperkuat melalui inovasi nyata dan kolaborasi lintas sektor.
Intervensi kesehatan saja dinilai belum cukup jika tidak diiringi perubahan perilaku masyarakat.
Dia mengatakan, tantangan terbesar justru terletak pada upaya mengubah pola pikir dan kebiasaan keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.
“Karena itu, pendekatan berbasis komunitas dinilai lebih efektif untuk mempercepat penanganan,” paparnya.
Ia pun mendorong pemerintah daerah mengembangkan program edukasi gizi keluarga dengan melibatkan tokoh masyarakat, kader posyandu, hingga unsur kampung.
Dengan keterlibatan langsung masyarakat, pesan pencegahan stunting diyakini lebih mudah diterima dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Bisa juga memanfaatkan teknologi informasi untuk memantau tumbuh kembang anak secara lebih terukur dan berkelanjutan,” jelasnya.
Dengan sistem pemantauan yang akurat, intervensi dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran, terutama pada anak-anak yang terindikasi berisiko stunting.
Dari sisi kebijakan, ia meminta penguatan dukungan anggaran, khususnya bagi kader posyandu, tenaga penyuluh kesehatan, serta program pemberdayaan keluarga.
Menurutnya, mereka merupakan garda terdepan dalam percepatan penanganan stunting di tingkat akar rumput.
“Kami tidak ingin penanganan stunting hanya bersifat seremonial. Harus ada evaluasi menyeluruh dan inovasi konkret, karena ini menyangkut masa depan generasi Berau,” pungkasnya. (*/Adv)
