BERAU TERKINISelama puluhan tahun, Jepang memegang takhta tertinggi dalam dunia cerita bergambar. Sebut saja judul-judul legendaris seperti Dragon Ball, Naruto, hingga One Piece.

Karya-karya ini menemani masa kecil jutaan anak di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Istilah “Manga” menjadi sinonim dengan komik itu sendiri.

Format hitam putih dengan cara baca dari kanan ke kiri sudah menjadi standar baku. Para pembaca rela menabung uang jajan demi membeli volume terbaru di toko buku.

Namun, zaman berubah dengan cepat. Lanskap industri kreatif tidak lagi sama seperti satu atau dua dekade lalu.

Kini, jika Anda menengok ke dalam gerbong kereta Commuter Line atau ruang tunggu perkantoran, pemandangannya berbeda. Anak-anak muda hingga pekerja kantoran masih membaca komik.

Tetapi mereka tidak lagi memegang buku fisik setebal bantal. Mata mereka terpaku pada layar smartphone yang digulir terus ke bawah.

Apa yang mereka baca sering kali bukan lagi Manga Jepang. Mereka sedang menikmati “Manhwa”, atau komik yang berasal dari Korea Selatan.

Pergeseran ini bukan sekadar perubahan medium dari kertas ke layar. Ini adalah pertarungan budaya dan format yang sedang dimenangkan perlahan oleh Negeri Ginseng.

Revolusi Format Gulir Vertikal

Kunci utama kemenangan Manhwa di era digital terletak pada formatnya. Manga Jepang pada dasarnya didesain untuk dicetak di atas kertas.

Panel-panelnya disusun menyamping dan memenuhi satu halaman penuh. Ketika dipindahkan ke layar ponsel yang kecil, pengalaman membacanya menjadi kurang nyaman.

Pembaca harus sering melakukan zoom in dan zoom out untuk membaca teks yang kecil. Atau mereka harus menggeser layar ke samping yang kadang terasa tidak natural di genggaman satu tangan.

Sebaliknya, Manhwa atau Webtoon lahir di era internet. Para kreator Korea mendesain panel mereka memanjang ke bawah atau vertikal.

Format ini sangat ramah dengan perilaku pengguna ponsel pintar. Gerakan ibu jari untuk menggulir ke bawah atau scrolling terasa sangat intuitif.

Pembaca bisa menikmati cerita dengan satu tangan sambil berdiri di bus yang penuh sesak. Transisi antar panel terasa lebih sinematik dan mengalir.

Kemudahan aksesibilitas ini menjadi senjata utama. Korea Selatan berhasil membaca zaman lebih baik daripada Jepang yang sempat lama bersikeras pada format tradisional.

Kekuatan Visual Penuh Warna

Selain format, aspek visual menjadi pembeda yang sangat mencolok. Manga Jepang hampir selalu hadir dalam format hitam putih.

Alasannya pragmatis, yaitu untuk menekan biaya cetak majalah mingguan yang murah. Warna hanya muncul di halaman sampul atau edisi spesial.

Sementara itu, Manhwa hadir dalam format full color sejak panel pertama. Karena didistribusikan secara digital, tidak ada biaya tinta cetak yang perlu dikhawatirkan.

Bagi generasi yang tumbuh dengan layar resolusi tinggi, visual berwarna tentu lebih memanjakan mata. Efek ledakan, sihir, atau emosi karakter tersampaikan lebih hidup.

Ambil contoh fenomena Solo Leveling. Manhwa aksi ini meledak di pasar global berkat tata artistiknya yang memukau.

Efek bayangan dan cahaya yang dimainkan oleh ilustratornya membuat setiap pertarungan terasa epik. Hal ini sulit ditandingi oleh goresan tinta hitam putih biasa, kecuali oleh mangaka kelas dewa.

Daya tarik visual ini menjadi pintu masuk yang efektif bagi pembaca baru. Mereka yang mungkin tidak terbiasa membaca Manga, bisa langsung jatuh cinta pada Manhwa karena warnanya.

Tema yang Relevan dengan Kehidupan Modern

Dari segi cerita, Manhwa juga menawarkan pendekatan yang sedikit berbeda. Meskipun genre fantasi dan romansa tetap mendominasi, premisnya sering kali lebih to the point.

Tema “Isekai” atau berpindah ke dunia lain memang populer di kedua negara. Namun Korea sering kali membumbuinya dengan elemen video game atau “Sistem”.

Karakter utama sering digambarkan bisa melihat status barnya sendiri, naik level, dan menjadi kuat secara instan. Fantasi kekuatan atau power fantasy ini sangat laku keras.

Ini sejalan dengan budaya gaming yang kuat di Korea Selatan. Pembaca merasa familiar dengan istilah quest, dungeon, dan item drop.

Selain itu, genre romansa perkantoran dan drama kerajaan juga memiliki pasar yang masif. Cerita tentang balas dendam seorang putri yang dikhianati sering kali menjadi viral di media sosial.

Narasi yang cepat dan penuh cliffhanger di setiap akhir episode membuat pembaca ketagihan. Mereka tidak sabar menunggu pembaruan minggu depan.

Gelombang Hallyu yang Menyokong

Kesuksesan Manhwa tidak berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari gelombang budaya Korea atau Hallyu yang lebih besar.

Popularitas K-Pop dan K-Drama membuka jalan bagi produk budaya Korea lainnya. Banyak judul drama Korea populer yang sebenarnya diadaptasi dari Manhwa webtoon.

Sebut saja All of Us Are Dead, Sweet Home, atau Business Proposal. Kesuksesan versi dramanya membuat orang penasaran untuk membaca versi komiknya.

Sinergi lintas media ini digarap sangat serius oleh industri hiburan Korea. Mereka menciptakan ekosistem di mana satu kekayaan intelektual bisa diolah menjadi berbagai bentuk hiburan.

Jepang sebenarnya sudah lama melakukan ini dengan Anime. Namun Korea kini mengejar dengan kecepatan yang mengagumkan, didukung oleh platform streaming global seperti Netflix.

Aksesibilitas di Ujung Jari

Faktor terakhir yang tak kalah penting adalah kemudahan akses. Di masa lalu, untuk membaca kelanjutan cerita Kung Fu Boy, kita harus pergi ke toko buku atau taman bacaan.

Terkadang stok bukunya habis atau belum terbit. Proses distribusinya memakan waktu dan biaya fisik.

Kini, jutaan judul komik tersedia di awan digital. Pembaca hanya butuh koneksi internet untuk mengakses perpustakaan raksasa yang tak terbatas.

Platform resmi bermunculan dengan sistem koin atau langganan. Namun, rasa haus pembaca akan cerita baru sering kali tak terbendung.

Kebutuhan akan update harian ini memicu munculnya berbagai portal baca daring. Mereka mencari situs baca komik yang paling lengkap dan cepat dalam merilis bab terbaru.

Di situs-situs semacam ini, pembaca bisa menemukan ribuan judul dari berbagai genre. Tidak hanya Manhwa, tetapi juga Manhua dari Tiongkok yang kini mulai ikut meramaikan pasar.

Kemudahan untuk berpindah dari satu judul ke judul lain hanya dengan satu klik membuat pola konsumsi menjadi sangat cepat. Kita bisa membaca tiga judul berbeda dalam satu jam perjalanan pulang kerja.

Apakah Manga Akan Mati?

Lantas, apakah fenomena ini akan membunuh industri Manga Jepang? Jawabannya kemungkinan besar tidak.

Manga memiliki akar budaya yang sangat dalam dan basis penggemar yang loyal. Kualitas cerita atau storytelling Manga Jepang masih dianggap lebih superior dan berbobot oleh banyak kritikus.

Karya-karya masterpiece seperti One Piece atau Berserk memiliki kedalaman filosofis yang sulit dicari tandingannya. Jepang juga mulai beradaptasi dengan meluncurkan platform digital mereka sendiri.

Namun, dominasi tunggal Jepang sudah pasti berakhir. Kini mereka harus berbagi kue dengan Korea Selatan.

Persaingan ini sebenarnya sehat bagi industri. Kreator Jepang terpacu untuk berinovasi, dan kreator Korea terpacu untuk meningkatkan kualitas cerita.

Pada akhirnya, yang paling diuntungkan adalah kita sebagai pembaca. Kita disuguhi ragam pilihan cerita yang semakin variatif dan format yang semakin nyaman.

Entah itu hitam putih atau berwarna, dibaca dari kanan atau digulir ke bawah, tujuannya tetap satu. Kita mencari pelarian sejenak dari realitas ke dalam dunia imajinasi yang tanpa batas.

Dan di era digital ini, pintu menuju dunia imajinasi itu terbuka lebar selebar layar ponsel di genggaman Anda.