BERAU TERKINI – Wakil Ketua Komisi II DPRD Berau, Arman Nofriansyah, menyarankan agar Pemerintah Kabupaten Berau mengkaji ulang rencana penyertaan modal kepada BPD Kaltimtara (Bankaltimtara) sebesar Rp50 miliar.
Menurutnya, dana tersebut lebih tepat dialihkan untuk mendorong pembangunan ekonomi masyarakat secara langsung melalui sektor yang lebih produktif dan menjanjikan.
Arman menilai, Bankaltimtara telah beberapa kali menerima penyertaan modal dengan nilai yang tidak sedikit.
Namun, hingga saat ini, dividen yang didapat daerah terhadap peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) dinilai belum signifikan.
“Dengan jumlah modal Rp304 miliar lebih di BPD, kita hanya dapat deviden Rp15 miliar satu tahun. Atau hanya 4-5 persen dari modal setiap tahun. Lebih baik dialihkan ke sektor yang lebih berpotensi,” katanya.

Kondisi inilah yang menjadi alasan kuat bagi DPRD Berau untuk meminta Pemkab mengevaluasi efektivitas penyertaan modal yang selama ini diberikan.
“Ya, penyertaan modal itu sebaiknya dibatalkan saja. Lebih baik dana tersebut diputar untuk menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujar Arman.
Ia menegaskan, Pemkab Berau seharusnya mulai memikirkan langkah strategis jangka panjang dengan membangun industri berbasis potensi daerah. Salah satunya melalui pengembangan industri hilirisasi.
Arman mencontohkan, sektor kelapa sawit yang selama ini hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, padahal memiliki nilai tambah yang sangat besar jika diolah lebih lanjut.
Apalagi, Berau memiliki sumber daya alam yang melimpah, termasuk perkebunan kelapa sawit yang tersebar di berbagai wilayah.
“Kita punya Perusda Bakti Praja yang mungkin bisa mengelola industri hilirisasi itu,” katanya.
Dengan potensi tersebut, sangat disayangkan apabila daerah justru tertinggal dibandingkan daerah lain yang tidak memiliki kebun sawit, namun mampu membangun industri pengolahan secara mandiri.
“Berau ini punya sumber daya. Masa daerah lain seperti Bontang yang tidak punya kebun sawit bisa mengembangkan industri, sementara Berau tidak,” tegasnya.
Baginya, industri hilirisasi kelapa sawit memiliki prospek yang sangat menjanjikan.
Produk turunannya pun bisa beragam, mulai dari minyak goreng, sabun, hingga berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.
Jika dikelola oleh daerah, industri ini tidak hanya meningkatkan PAD, tetapi juga membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi masyarakat lokal.
Bahkan, ia menyebut produk-produk hasil hilirisasi tersebut berpotensi menjadi identitas daerah.
Misalnya, minyak goreng khas Berau yang bisa dipasarkan sebagai produk unggulan lokal.
“Kenapa tidak kita buat minyak goreng ‘Sanggam’ asli Berau yang dikelola Bakti Praja, misalnya. Begitu juga dengan sabun atau produk lainnya,” terangnya.
“Itu bisa dipasarkan ke luar daerah dan menjadi kebanggaan Berau,” sambungnya.
Ia juga mengingatkan agar peluang tersebut tidak justru diambil lebih dulu oleh pihak swasta dari luar daerah. Sementara, pemerintah daerah hanya menjadi penonton.
Oleh karena itu, Arman mendorong Pemkab Berau untuk lebih berani mengambil langkah, termasuk mengalihkan anggaran penyertaan modal ke sektor yang memiliki dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.
“Ini peluang yang menurut saya jauh lebih menjanjikan dan bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Berau,” pungkasnya. (*)
