BERAU TERKINI – PT Hutan Sanggam Berau (HSB) bakal melebarkan sayap bisnis perusahaan dari yang hanya bergantung pada bisnis kayu bulat ke sektor pertanian jagung hingga kakao.

Kepercayaan diri perusahaan ini berkaca dari hasil panen jagung perdana di lahan perhutanan sosial yang dikelola PT HSB milik PT Inhutani I, Rabu (14/8/2025).

Sejauh ini, eksploitasi kayu hutan di Kecamatan Teluk Bayur, Segah, dan Kelay tersebut belum memberikan hasil maksimal ke kas daerah. PT HSB yakin dengan diversifikasi ini akan meningkatkan keuntungan perusahaan.

Manajer Pengamanan Hutan dan Humas PT HSB, Anwar Kalfangare, mengatakan, terdapat dua pola bisnis yang akan diterapkan oleh perusahaan.

Pertama, multi usaha perhutanan yang akan memaksimalkan produk pertanian yang dapat memanfaatkan hutan non-produktif perusahaan secara mandiri oleh perusahaan.

Kedua, pemanfaatan perhutanan sosial melibatkan masyarakat yang memiliki lahan dengan suplai bibit, pupuk dan alat pertanian langsung dari perusahaan.

“Dua skema ini dilakukan di kawasan operasi PT HSB, memanfaatkan lahan non-produktif perusahaan,” terang Anwar.

Diversifikasi ekonomi ke bidang usaha pertanian jagung dan kakao ini disebut sangat strategis. Sebab, dalam kurun waktu yang relatif singkat, hasilnya sudah dapat masuk ke kas perusahaan.

“Kami punya area dan potensi usaha yang besar, secara izin perusahaan juga sudah memberikan peluang itu,” kata dia.

Sejak 2022, setelah KBLI perusahaan sudah diubah dan penggantian nama perusahaan dari PT Hutan Sanggam Labanan Lestari menjadi PT Hutan Sanggam Berau, memberikan peluang besar bagi perusahaan untuk mengembangkan bisnis.

Kesempatan ini diyakini menjadi angin segar untuk memaksimalkan peran perusahaan dalam membantu meningkatkan kas daerah. Mengingat PT HSB merupakan perusahaan daerah yang 50 persen sahamnya dikuasai oleh Pemkab Berau.

“Ini arah baru untuk HSB, bisa berkontribusi lebih untuk keuangan daerah,” tuturnya.

Saat ini, diversifikasi usaha PT HSB masih dalam kajian yang melibatkan akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman. 

Bila kajian tersebut rampung dan dinilai layak untuk dilaksanakan, tak menutup kemungkinan skema tersebut akan mulai diterapkan dalam waktu dekat ini.

“Kami matangkan dulu dari sisi kajiannya, memastikan tak ada aturan yang dilanggar dari penerapan skema tersebut,” ujarnya. 

Disinggung rencana perluasan bisnis ke sektor perkebunan kelapa sawit, Anwar menegaskan, sektor bisnis tersebut tak berada dalam cakupan pekerjaan perusahaan.

PT Inhutani I juga tak memiliki kewenangan dalam langkah bisnis di sektor tersebut.

“Itu tidak berada dalam langkah kerja strategis kami. HSB hanya fokus pada hasil pertanian jagung dan kakao,” terangnya. 

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Pertanian (DTPHP) Berau, Junaidi, memberikan dukungan terhadap program ini. Apalagi, melihat besarnya potensi lahan non produktif milik PT HSB di empat kecamatan yang ada.

“Mudah-mudahan program ini bisa memberikan usaha sampingan bagi petani di sekitar hutan dan memberikan dampak positif,” ujarnya.

Junaidi juga mengusulkan agar sebagian lahan dimanfaatkan untuk menanam tanaman benih atau komposit.

Menurutnya, hal ini dapat mengurangi ketergantungan pembelian benih dari luar daerah.

“Sekarang kalau mau pengadaan lima atau sepuluh ton benih, kita harus beli ke Jawa. Padahal lahan kita banyak,” tegas Junaidi.

Sebagai informasi, panen perdana masuk dalam program Penanaman Jagung 1 Juta Hektare dilaksanakan di Kampung Batu Rajang, Kecamatan Segah.

PT HSB merupakan salah satu perusahaan daerah yang turut terlibat dalam program yang diinisiasi Polri tersebut. (*)