BERAU TERKINI– Rencana relokasi bagi warga Kampung Long Ayap terdampak banjir di Berau kini memasuki tahap akhir.

Kepala Bidang Perumahan Disperkim Berau, Juli Mahendra, mengatakan seluruh persiapan di tingkat kampung hampir rampung sepenuhnya, namun proses relokasi masih menunggu langkah lanjut dari pemerintah daerah.

Juli menjelaskan, warga telah menyatakan kesediaan penuh untuk direlokasi. Bahkan, masyarakat siap menghibahkan lahan mereka kepada pemerintah daerah sebagai lokasi pembangunan permukiman baru.

“Persiapan sudah sekitar 95 persen. Tinggal persoalan lahan, dan itu pun warga sudah siap menghibahkan kepada pemerintah daerah. Artinya pemerintah tidak perlu mengeluarkan biaya lagi untuk pengadaan lahan,” jelas Juli Mahendra.

Ia menegaskan, relokasi ini sangat penting karena kondisi kampung yang kerap terendam banjir dan banyak rumah warga mengalami kerusakan berat.

Tidak hanya rumah tinggal, fasilitas umum seperti gereja dan rumah guru honorer juga terdampak.

Juli menegaskan bahwa relokasi berarti pembangunan rumah baru, bukan renovasi seperti program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).

Kepala Bidang Perumahan Dinas Perkim Berau, Juli Mahendra.(Diva/ BT)
Kepala Bidang Perumahan Dinas Perkim Berau, Juli Mahendra.(Diva/ BT)

“Kalau BSPS itu renovasi atau peningkatan kualitas rumah mengganti papan yang rusak, atap bocor dan sebagainya. Tapi relokasi membangun rumah baru dari nol mulai fondasi, lantai, dinding sampai atap,” ujarnya.

Juli menyebutkan, perkiraan anggaran pembangunan satu unit rumah baru berada di kisaran Rp140 juta hingga Rp150 juta, berdasarkan pembahasan bersama tim.

Karena rumah dibangun seragam, desain dan tipe untuk seluruh penerima bantuan nantinya dibuat sama. “Peruntukannya sama, haknya juga sama,” tambahnya.

Pihaknya berharap pemerintah daerah segera merespons kesiapan warga.

“Kalau sudah disampaikan ke publik, tentu masyarakat menunggu realisasinya. Kalau itu tidak dilaksanakan, masyarakat bisa kecewa. Apalagi mereka sangat antusias ingin direlokasi,” ujarnya.

Menurutnya, ini menjadi momentum terbaik karena lahan sudah disiapkan masyarakat secara swadaya.

“Bola sudah di depan gawang. Tinggal bagaimana pemerintah daerah menyambutnya,” tutup Juli. (*/Adv)