BERAU TERKINI — Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Berau terus mengupayakan pengembangan komoditas kakao dan kelapa yang memiliki potensi cukup besar.

Bekerja sama dengan Pusat Kajian Percepatan Pembangunan dan Inovasi Daerah Universitas Mulawarman, Diskoperindag Berau menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk penyusunan draf awal peta jalan (roadmap) hilirisasi komoditas kelapa dan kakao.

Roadmap itu dimaksudkan untuk menciptakan pengembangan industri jangka menengah yang efektif, efisien, dan memberikan manfaat ekonomi maksimal bagi daerah.

Kepala Bidang Perindustrian Diskoperindag Berau, Reta Noratni, menjelaskan, FGD ini bertujuan untuk mengkaji data dan informasi mendalam mengenai potensi kelapa serta kakao di setiap kecamatan.

Kepala Bidang Perindustrian Diskoperindag Berau, Reta Noratni. (Adrikni/BT)
Kepala Bidang Perindustrian Diskoperindag Berau, Reta Noratni. (Adrikni/BT)

Hilirisasi menjadi kunci karena produk turunan kelapa sangat beragam, mulai dari bahan pangan, minyak kelapa, hingga produk kosmetik, seperti sabun cair dan batangan. 

Begitu pula dengan kakao yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, seperti pasta cokelat dan cokelat batangan.

“Jadi kami ingin memberikan menyeluruh semua kampung di 13 kecamatan, kira-kira kampung mana saja berpotensi untuk kita kembangkan kakao dan kelapa,” ujar Reta, Rabu (25/2/2026).

Langkah strategis ini juga merupakan bentuk dukungan terhadap program kepala daerah dalam menonjolkan produk unggulan lokal.

Melalui pemetaan yang akurat, Diskoperindag ingin memastikan potensi kampung-kampung di Berau tergali dengan optimal.

“Kita pengen itu tadi, mempotensikan kampung-kampung,” tambahnya.

Salah satu temuan menarik dalam kajian ini adalah persebaran potensi kelapa yang tidak hanya berpusat di daerah pesisir.

Kampung Sukan dan Kampung Bebanir Bangun, misalnya, ternyata memiliki kekayaan hasil kelapa yang sangat melimpah.

Seluruh bagian dari buah kelapa dinilai memiliki nilai ekonomi menjanjikan, mulai dari sabut, tempurung, hingga ampasnya.

Sementara itu, kakao Berau sendiri sudah memiliki nama besar yang diakui, baik di pasar nasional maupun mancanegara.

Meski ke depannya hilirisasi juga akan menyasar komoditas jagung, untuk saat ini pemerintah daerah memilih untuk memberikan perhatian penuh pada kelapa dan kakao terlebih dahulu.

“Kami sebenarnya ada tiga produk, satunya jagung, hanya jagung belum roadmap-nya, kami fokus ke kelapa sama kakao,” jelas Reta.

Mengingat proses hilirisasi membutuhkan waktu yang panjang dan konsistensi, penyusunan roadmap ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi kemandirian industri Berau.

Ketersediaan bahan baku yang melimpah menjadi modal utama agar produk lokal bisa naik kelas.

“Dua produk unggulan ini menjadikan salah satu kontribusi daerah yang tentunya kita berharap nanti bisa bernilai tinggi ya,” pungkasnya. (*)