TANJUNG REDEB – Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Berau, David Pamuji, memastikan akan memberikan kemudahan bagi para korban bencana banjir yang kehilangan dokumen kependudukan.
Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, terdapat 10.327 jiwa yang terdampak banjir dari luapan Sungai Kelay di empat kecamatan.
Pada akhir Mei 2025, dari luapan Sungai Segah, terdapat 2.638 jiwa yang terdampak yang tersebar di 5 kampung.
Pamuji mengatakan, pihaknya tak akan mempersulit pengurusan data kependudukan warga yang terdampak musibah banjir.
Sebab, data kependudukan tersebut penting untuk memastikan program bantuan yang nantinya akan diberikan oleh pemerintah daerah, termasuk relokasi pemukiman di Daerah Aliran Sungai (DAS).
“Data itu penting bagi warga yang nantinya direlokasi,” kata dia, Rabu (4/6/2025).
Adapun kemudahan yang akan diberikan kepada para warga yang terdampak bencana adalah dapat mengurus data kependudukan tanpa syarat. Disdukcapil cukup menerima daftar nama korban yang kehilangan dokumen kependudukan.
Tak hanya Kartu Keluarga (KK), Disdukcapil akan menyiapkan pencetakan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dengan mencantumkan nama dan alamat domisili.
Kemudahan itu diberikan lantaran Disdukcapil Berau telah memiliki database penduduk yang dapat disinkronkan dengan setiap titik wilayah bencana.
Pengurusan dokumen kependudukan pun tak perlu dilakukan perorangan. Dia meminta bantuan kepada setiap kepala kampung untuk melakukan pendataan warga yang terdampak bencana dengan memastikan format data berupa nama kepala keluarga dan anggotanya.
“Nanti kami minta bantuan kakam untuk pendataan,” sebutnya.
Setelah dicetak, nantinya dokumen kependudukan baru tersebut akan diberikan secara kolektif melalui kepala kampung. Setelah itu, akan membantu penyaluran dokumen tersebut ke masing-masing warga.
“Nanti penyaluran dibantu kakam. Ini lebih efisian tenaga dan waktu,” kata Pamuji.
Sementara itu, Kepala Kampung Long Ayap, Jemi, mengatakan bersedia diberikan mandat melakukan pendataan setiap warganya yang terdampak banjir.
Hanya saja, saat ini pihaknya masih disibukkan dengan aktivitas gotong-royong rumah warga yang rusak akibat terjangan banjir yang terjadi pada akhir Mei lalu.
“Bisa saja mas, nanti kami bantuk melakukan pendataan,” ucap Jemi.
Dia pun menyampaikan kondisi terkini di kampungnya pasca banjir, di mana warga masih disibukkan dengan pembuatan dapur darurat berukuran 3×3 meter.
Saat ini, hampir 40 persen warga di Long Ayap masih mengungsi di posko bencana yang berada sekitar 500 meter dari titik banjir.
Dia mengaku, bantuan terus mengalir, mulai dari kebutuhan selimut, pakaian bekas, terutama bahan makanan dan air bersih.
“Bantuan masih terus kami terima. Terima kasih,” tuturnya. (*)
