BERAU TERKINI – Keberadaan kebun induk kakao di Tumbit Melayu bakal mendukung upaya Berau sebagai pemasok bibit Kakao untuk wilayah utara Kaltim.
Disbun Berau terus mematangkan langkah menjadikan Berau sebagai salah satu lokasi strategis pengadaan bibit kakao di Kalimantan Timur.
Upaya ini dilakukan melalui rencana pembangunan kebun induk kakao guna memperkuat fungsi UPTD Balai Benih Tanaman Perkebunan (BBTP) yang berlokasi di Kampung Tumbit Melayu.
Kepala Dinas Perkebunan Berau melalui Pelaksana Bidang Produksi Dinas Perkebunan Berau, Sunarto, mengatakan UPTD Balai Benih memiliki tujuh fungsi utama, salah satunya menyediakan benih untuk mendukung program pemerintah daerah, khususnya dalam mewujudkan kemandirian bibit tanaman perkebunan.
“Sebagai balai benih, UPTD diberikan kewenangan untuk menyediakan bibit. Untuk tahap awal, kita rencanakan pembangunan kebun induk kakao seluas satu hektare,” ujar Sunarto.
UPTD Balai Benih Tanaman Perkebunan di Tumbit Melayu memiliki total lahan sekitar 10 hektare. Lahan tersebut terbagi menjadi kebun produksi di bagian depan dan area kebun induk di bagian belakang.
Untuk tahap awal, satu hektare lahan kebun induk diperkirakan dapat ditanami sekitar 1.000 pohon kakao.
“Kebun induk ini rencananya mulai disiapkan tahun depan, diawali dengan pembukaan lahan dan persiapan teknis. Tapi untuk bisa berfungsi sebagai kebun induk, diperlukan waktu minimal empat tahun hingga tanaman betul-betul menghasilkan sumber benih,” jelasnya.
Pengelolaan kebun induk kakao nantinya akan dilakukan oleh tim UPTD Balai Benih, dengan pendampingan teknis dari BRMP TRI.
Tim tersebut direncanakan akan turun langsung ke lokasi untuk meninjau kesiapan lahan sekaligus memberikan arahan teknis terkait pengelolaan kebun induk.
Di tingkat provinsi, keberadaan kebun induk kakao masih sangat terbatas. Meski Kalimantan Timur telah memiliki kebun pengembangan, khusus kebun induk kakao belum tersedia secara memadai di tingkat kabupaten.
“Karena keterbatasan itu, Berau ditunjuk sebagai lokasi strategis pengadaan bibit kakao untuk wilayah utara Kalimantan Timur,” ungkap Sunarto.
Sebagai bagian dari persiapan, Dinas Perkebunan Berau juga telah melakukan koordinasi dan studi ke Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Industri dan Penyegar (BRMP TRI).
Kunjungan tersebut bertujuan mempelajari tata cara pembangunan kebun induk kakao, termasuk teknik penyediaan entres kakao.
“Studi dan koordinasi dilakukan tidak hanya secara teori, tetapi juga melalui kunjungan langsung ke lapangan, melihat contoh kebun kakao hingga proses pengolahan pasca panennya,” jelasnya.

BRMP TRI sendiri merupakan unit kerja di bawah Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementerian Pertanian, yang memiliki tugas melaksanakan perekayasaan, perakitan, dan pengujian teknologi pertanian khusus komoditas tanaman industri.
Melalui pembangunan kebun induk ini, Pemkab Berau menargetkan dapat menghasilkan bibit kakao bersertifikat yang terjamin asal-usulnya dan siap dimanfaatkan oleh petani.
Penyaluran bibit nantinya akan mengikuti mekanisme yang ditetapkan pemerintah daerah, baik melalui pihak ketiga maupun perusahaan.
“Yang terpenting, bibit yang dihasilkan berkualitas dan bersertifikat,” tegas Sunarto.
Selain kakao, Disbun Berau juga merencanakan pembangunan kebun induk lada yang akan didanai melalui APBN. Namun hingga kini, realisasi kedua rencana tersebut masih menunggu kepastian dukungan anggaran.
“Dari sisi perencanaan dan kesiapan lahan sudah sesuai. Saat ini tinggal menunggu kejelasan anggaran,” pungkasnya.(*)
