BERAU TERKINI – Dinas Perkebunan (Disbun) Berau menegaskan bahwa pemasaran kakao Berau saat ini masih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, meski minat pembeli luar negeri terus berdatangan.
Kepala Disbun Berau, Lita Handini, mengungkapkan bahwa beberapa pembeli dari luar daerah hingga luar negeri bahkan sudah datang langsung dan bertemu dengan pimpinan daerah untuk melihat potensi kakao Berau.
“Permintaan dari luar itu sebenarnya besar. Bahkan kemarin ada pembeli dari Perancis yang datang. Mereka bisa minta sampai 200 ton per bulan, tapi kemampuan produksi kita belum sampai ke situ,” ujar Lita.
Ia menjelaskan, total produksi kakao Berau saat ini baru berada di kisaran 600 hingga 700 ton per tahun, dan jumlah tersebut masih harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan di beberapa wilayah, termasuk pasar dalam negeri.
“Kalau untuk ekspor, kita paling baru bisa 15 sampai 20 ton. Jadi ekspor ini lebih ke membuka jalan dulu, membangun jejaring, supaya kakao Berau dikenal di luar,” jelasnya.

Menurut Lita Handini, salah satu pembeli kakao dari luar daerah seperti Cokelat Valrhona dari Perancis, juga masih dilayani sesuai dengan kapasitas yang dimiliki petani lokal.
Pihaknya memilih untuk tidak memaksakan target ekspor besar agar tidak mengganggu stabilitas pasokan dalam negeri. “Target utama kita tetap pasar dalam negeri,” tegasnya.
Lebih lanjut, Lita Handini menyebut pengembangan kakao di Berau dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak.
Pemkab Berau bersama sejumlah pihak seperti NGO, dan sektor swasta terus bersinergi untuk menjaga keberlanjutan kakao sebagai komoditas unggulan.
“Pemda sangat mendukung, OPD terkait ikut terlibat. Ada juga NGO yang melakukan pembinaan kakao. Dari sektor swasta ikut mendukung, begitu juga perusahaan pembeli yang menyerap hasil kakao petani,” paparnya.
Sinergi ini bertujuan agar petani kakao tetap konsisten dan tidak beralih ke komoditas lain. Bantuan bibit yang diberikan oleh berbagai pihak diharapkan mampu menambah luasan tanam dan meningkatkan produksi secara bertahap.
“Kami berharap petani yang mendapat bantuan bibit benar-benar menanam dan merawatnya. Kalau luasannya bertambah, produksinya juga akan meningkat,” ujarnya.
“Dengan begitu, pelan-pelan kita bisa menjawab tantangan ekspor tanpa meninggalkan kebutuhan dalam negeri,” pungkasnya.(*)
