BERAU TERKINI – Disbudpar Berau menerapkan prioritas untuk pengembangan wisata berbasis kampung.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau memfokuskan pengembangan destinasi wisata pada kampung-kampung yang dinilai telah siap dan memiliki tingkat kunjungan wisatawan yang tinggi, di tengah keterbatasan anggaran yang dimiliki pemerintah daerah.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Disbudpar Berau, Samsiah Nawir, melalui Staf Bidang Pengembangan Destinasi Wisata, Andi Nusyamsi, mengatakan setelah adanya evaluasi anggaran dari Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD), pihaknya melakukan penyesuaian program kerja dengan mengedepankan skala prioritas.
Menurutnya, hampir seluruh kampung di Berau memiliki potensi wisata masing-masing. Namun, tidak semua dapat dikembangkan secara bersamaan karena keterbatasan anggaran.
Oleh sebab itu, kampung yang sudah siap secara fasilitas dan memiliki tingkat kunjungan wisatawan tinggi menjadi fokus utama pengembangan.
“Kami tetap melanjutkan pengembangan destinasi wisata, tetapi dengan skala prioritas. Kampung yang sudah ramai dikunjungi dan siap secara pengelolaan akan kami dahulukan,” ujarnya.
Ia menyebutkan, kawasan wisata Derawan hingga kini masih menunjukkan tingkat kunjungan yang tinggi. Bahkan, berdasarkan laporan di lapangan, tingkat hunian penginapan di kawasan tersebut kerap penuh.
Kondisi serupa juga terlihat di Maratua, yang direncanakan akan mendapatkan penambahan fasilitas penunjang, khususnya di area dermaga agar tampil lebih representatif bagi wisatawan.
Selain destinasi unggulan, Disbudpar Berau juga merencanakan pengembangan lanjutan di sejumlah kampung lain yang dinilai potensial dan siap dikembangkan.

Seperti Kampung Buyung-buyung dan Kampung Merabu. Di Merabu, pengembangan jalur tracking menjadi salah satu perhatian karena hingga kini belum sepenuhnya rampung.
Sementara itu, Kampung Merasa juga masuk dalam perhatian Disbudpar melalui pengembangan wisata berbasis event budaya, seperti Festival Meja Panjang dan Long Sam, yang dinilai mampu menarik kunjungan wisatawan sekaligus melestarikan budaya lokal.
Meski banyak kampung mengajukan usulan pengembangan destinasi wisata, Andi menegaskan bahwa pembangunan harus dilakukan secara bertahap.
Ia mengakui, apabila seluruh permintaan dipenuhi sekaligus, maka keterbatasan anggaran akan menjadi kendala besar.
“Pengembangan tetap harus berjalan, meskipun tidak semua kebutuhan bisa dipenuhi sekaligus. Kami juga berharap adanya dukungan dari pihak ketiga untuk bersama-sama mengembangkan pariwisata di Berau,” pungkasnya.(*)
