BERAU TERKINI – Kerja sama semua sektor serta gerakan bersama pelaku Ekraf menjadi kunci ekosistem Ekonomi Kreatif di Berau berkembang.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau kini berfokus pada pembangunan ekosistem ekonomi kreatif yang terintegrasi.
Langkah ini dilakukan dengan memusatkan pengembangan pada tiga subsektor yang dianggap siap dikembangkan menjadi penggerak ekonomi daerah.
Kepala Disbudpar Berau, Ilyas Natsir, menjelaskan bahwa penguatan subsektor seni pertunjukan, batik khas Berau, dan kerajinan tangan berbahan limbah kayu ulin bukan hanya soal peningkatan kualitas produk.
“Kita inginnya memastikan para pelaku ekraf tidak lagi bekerja sendiri-sendiri. Harus ada gerakan bersama agar dampaknya luas,” ujarnya.
Ilyas menyebut, pembinaan menjadi kunci agar pelaku usaha memiliki arah yang jelas. Pendampingan dilakukan melalui pelatihan teknis, peningkatan kualitas produksi, hingga penyusunan roadmap ekraf yang merinci target dan rencana pengembangan setiap subsektor.
Menurutnya, banyak pelaku kreatif di Berau yang memiliki keterampilan kuat, namun belum memiliki strategi pemasaran atau akses jejaring. Di sinilah peran Disbudpar diperlukan.
“Pendampingan penting agar mereka punya arah, strategi, dan perencanaan jangka panjang,” katanya.
Untuk memperkuat ekosistem, pemerintah daerah juga membentuk Komisi Ekonomi Kreatif. Wadah ini mempertemukan pelaku usaha, pemerintah, komunitas, hingga pihak pendukung dalam satu forum koordinatif.
Komisi tersebut berfungsi sebagai jembatan antara para kreator dan peluang pasar, sekaligus memastikan pengembangan ekraf sejalan dengan potensi pariwisata daerah.
Dari 17 subsektor ekraf, seni pertunjukan dan batik dinilai memiliki nilai budaya kuat sekaligus daya tarik wisata. Sementara kerajinan dari limbah kayu ulin muncul sebagai subsektor baru dengan peluang besarterutama karena memanfaatkan bahan lokal yang bernilai estetika tinggi.
Produk seperti gelas, piring, piala, hingga souvenir ulin dinilai dapat menjadi identitas baru Berau di pasar kreatif.
“Kami optimistis. Jika dikelola serius, subsektor unggulan ini bisa menjadi kekuatan baru bagi pariwisata dan kesejahteraan pelaku kreatif,” tuturnya. (*)
