JAKARTA – Kemlu mengungkapkan saat masih bertugas diplomat muda ADP sempat menjadi saksi kasus TPPO.
Seorang diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemlu) yakni Arya Danu Pangayunan atau ADP (39) ditemukan tewas dalam kamar indekos di Menteng, Jakarta.
Kematian ADP menjadi misteri, sebab saat ditemukan, jenazah ADP dalam kondisi wajah dililit lakban dan kamar terkunci.
Menurut Direktur Perlindungan WNI Judha Nugraha, ADP adalah sosok yang berdedikasi atas pekerjaannya. Judha mengatakan, ADP juga sering terlibat dalam misi kemanusiaan di luar negeri.
“Almarhum ADP pernah ikut operasi kemanusian saat gempa bumi di Turkiye ataupun Taiwan dengan penuh dedikasi,” ujar Judha Nugraha dikutip dari Beritasatu.
Judha Nugraha mengatakan, ADP juga sempat menangani tugas perlindungan WNI dari Tindak Pidana Perdagangan Orang atau TPPO. Dia mengatakan, ADP juga sempat menjadi saksi dalam kasus TPPO di Jepang.
Namun, Judha Nugraha berharap kematian ADP tidak dikaitkan dengan kasus tersebut lantaran kasusnya sudah selesai.
Sampai saat ini kasus kematian ADP masih menjadi misteri. Polisi masih mendalami penyebab kematian ADP dan melakukan olah TKP serta meminta keterangan dari saksi.
Adapun temuan sementara menunjukan, tidak ada tanda kekerasan dalam tubuh korban dan tidak ditemukan adanya barang yang hilang.
Tewas Misterius
Sebelumnya diberitakan, seorang diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemlu) berinisial ADP (39) ditemukan tewas di kamar indekosnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
ADP ditemukan tewas pada Selasa (8/7/2025) kemarin, kondisi ADP cukup janggal sebab kamarnya tertutup dan kepalanya dililit dengan lakban.
Dari pemeriksaan awal, kematian ADP dinilai tidak wajar dan diduga sebagai korban pembunuhan. Kini jenazah ADP tengah diautopsi untuk pemeriksaan lebih jauh.
Kini, polisi masih menyelidiki penyebab kematian ADP, tim dari Satreskrim Polsek Menteng, Polres Metro Jakarta Pusat, dan Polda Metro Jaya diterjunkan untuk melakukan olah TKP dan mengumpulkan barang bukti.
Kapolsek Metro Menteng Kompol Rezha Rahandi mengatakan polisi sudah memeriksa tiga saksi, termasuk penjaga kos, istri korban, dan penghuni lainnya. Namun, sejauh ini belum bisa disimpulkan penyebab kematian ADP.

“Sudah ada tiga orang (diperiksa), untuk sementara masih enggak ada kesimpulan. Kita masih dalam tahap penyelidikan temuan mayat,” kata Rezha dikutip dari Beritasatu.
Polisi juga mendalami rekaman kamera pengawas atau CCTV di sekitar lokasi kejadian dan masih masih menunggu hasil autopsi jenazah korban dari RSCM Jakarta Pusat untuk memastikan penyebab pasti kematiannya.
Namun, kata Rezha, CCTV yang ada masih menggunakan kartu memori dan langsung tertancap di kameranya. “Jadi kami periksa satu-satu karena terpotong. Bukan CCTV yang recorder,” ujarnya.
Ia menambahkan polisi sampai saat ini masih mengumpulkan keterangan di lokasi kejadian TKP penemuan mayat dan belum menggali lebih dalam. Adapun dari hasil penyelidikan awal, polisi memastikan tidak ada barang-barang milik diplomat muda itu yang hilang. Hal ini menandakan kecil kemungkinan kematian korban bermotif pencurian.
Sementara itu, Juru Bicara Kemenlu Rolliansyah Soemirat menyatakan Kemenlu sangat berduka cita atas meninggalnya ADP.
“Kementerian Luar Negeri menyampaikan bela sungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga yang ditinggalkan. Almarhum saudara ADP meninggalkan seorang istri dan dua orang anak,” katanya.
